Set as default Homepage|Bookmark
 
 
» » » Wahdatul Wujud (Bagian 13)
Advertise

Wahdatul Wujud (Bagian 13)

Wahdatu al-Wujud (Bag: 13) : seri Tanya – Jawab Jajar Genjang” dan Ustad’ Sinar Agama
Facebook


 
Jajar Genjang :
 
1. Dalam penjelasan mengenai perjalanan irfan, dikatakan bahwa makhluk sanggup mencapai tingkat ke akal pertama. Sedangkan akal pertama adalah non materi mutlak, dimana tidak terjadi gerak dan proses. Padahal pencapaian makhluk hingga ke akal pertama merupakan sebuah proses. Hal ini sepertinya berkontradiksi. Mohon penjelasannya!

2. Apa yang dimaksud dgn alam lahut? Sedang susunan alam besar ada 3, yakni; jabarut,
malakut kemudian nasut.

3. Apakah pahaman-pahaman yang ada diakal juga dikatakan derajat "ada" dalam pandangan
filsafat, atau setidaknya tajjaliah dari "ada" dalm pandangan irfan, sbgmn ''ada'' yang ada dibalik aksiden dan substansi?

4. Apakah metode-metode dan persoalan teknis dalm ajaran islam yang dibawa nabi saww
dalm ilmu makrifat tidak begitu menyeluruh menyentuh segala aspek alat pengetahuan pada
manusia sehingga para filosof muslim mengadopsi metode-metode yang dipakai filosof yunani?

Terima kasih!

Sinar Agama:
Quote:
Salam dan trim atas pertanyaannya: Semoga Tuhan menaufiki kita untuk selalu mencari dan bertahan dalam KepenunjukanNya, amin.

(1). (a) Salah satu keunggulan manusia yang pelaing menonjol dari malaikat tertinggi sekalipun adalah karena kenon materian runya menyatu (secara alami dan fitrawi) dengan badan
dimana badan adalah materi dan materi adalah satu-satunya pembawa potensi.

(b) Keberadaan potensi pada materi adalah kenyataan bisa berubahnya materi dari satu esensi seperti mati, atau biji padi, kepada esensi yang lain seperti manusia atau pohon padi. Atau padi, menjadi pohon padi, pohon padi membuahkan biji-biji padi, biji-biji padi menjadi nasi, nasi menjadi mani, mani menjadi darah, darah menjadi daging, daging menjadi bayi dan bayi menjadi manusia.

Manusia ini, badannya, menjadi sakit dan mati, lalu menjadi tanah, tanahnya menjadi pohon padi kalau ditanami padi Setelah berabad tahun, lalu pohon padinya menjadi mani kambing (kalau dimakan kambing) lalu maninya, menjadi darah, daging, bayi kambing dan akhirnnya menjadi kambing. Begitu seterusnya dan begitu pula yang terjadi pada benda-benda lainnya. Dengan demikian, maka hanya materi yang bisa menjadi esensi lain dan berubah.

(c) Perubahan yang dimaksud dalam kata "Prose" adalah perubahan dalam waktu dan jaman, secepat apapun dia. Keterprosesan materi tidak lain, disamping kenyataan perubahan tadi,

adalah kemestian terikatnya dengan tempat/volume dan waktu. Jadi yang tidak memiliki volume dan waktu, non materi, sama Sekali tidak akan pernah mengalami proses, alias perubahan dalam waktu.

(d) Yang dimaksud dengan "waktu" dalam filsafat, bukan menir, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan abad. Karena waktu yang demikian itu adalah waktu yang disepakati bersama dari gerakan yang bisa dilihat secara bersama pula, yakni gerakan matahari.

Jadi, waktu dalam filsafat adalah "Ukuran Gerak". Ketika semua benda memiliki gerak dalam dirinya (atom2nya), atau dalam esensinya, seperti esensi substansi (dari mani ke bayi) atau aksidenynya (seperti putih ke merah, kecil ke besar), maka masing-masing benda memiliki waktunya sendiri. Artinya, memiliki ukurannya sendiri, bukan diukur dengan gerak matahari. Jadi, kalau gerak atom2 dua pohon padi dari sejak ditanamnya biji padinya, ketika keduanya menjacai tinggi setengah meter, maka mereka telah menempuh jarak jangkau yang sama, sekalipun mungkin waktunya berbeda. Misalnya yang satu Setelah seminggu mencapai setengah meter itu, dan yang lainnya Setelah dua minggu.

Nah, ketika jarak tempuh yang dicapai biji padi pertama itu seminggu (setengah meter), dan yang lainnya masih seperempat meter misalnya, maka gerak padi pertama lebih cepat dari padi ke dua. Jadi, Sebenarnya gerakan mereka dihitung dengan gerakan proses mereka sendiri, tidak diukur dengan gerakan matahari.

Disinilah mengapa orang yang belum syi'ah selalu menggaris bawahi imam maksum yang masih berumur lima tahun dsb. Mereka tidak sadar bahwa waktu 5 tahun itu adalah waktu matahari, bukan waktu mereka. Padahal waktu mereka sendiri adalah yang dicontohkan dalam Qur an surat al-Insan itu. Dimana asbabun nuzul surat tsb adalah berkenaan dengan puasa nadzarnya imam Ali as dan siti Fathimah as. karena telah sembuhnya imam Hasan as. dan Husain as. Yang kala itu Sedang tidak punya uang, hinga berhutang tepung gandum untuk makanan seukuran 3 hari dengan Sekali makan. Akan tetapi setiap mau makan setiap harinya selalu ada orang mengetuk pintu dan mengatakan beberapa tidak makan dimana mereka menyerahkan roti mereka dan akhirnya mereka tidak makan selama tiga hari puasan. Jadi mereka buka sahurnya hanya dengan air saja.

Yang ingin Saya ceritakan bukan mereka berdua, tapi imam Hasan dan Husain as yang masih kesil dan tidak ikut bernadzar. tapi ikut puasa dan menyerahkan rotinya dlam tidak hari itu. Padalah umur mereka baru sekitar 3-5 tahunan untuk ukuran gerakan matahari.

Bayangi, gerakan takwa dan proses ruh mereka itu, dalam keadaan masih muda untuk ukuran matahari itu, sangat-sangat tidak bisa diikuri oleh kita-kita sekalipun telah berumur 200 th sekalipun.

Kembalai ke masalah kita, maka dengan penjelasan di atas itu, dapat dilahami bahwa setiap benda memiliki waktunya sendiri karena waktu adalah ukuran atau volume gerak dari benda itu sendiri, bukan matahari.

(e) Nah, ketika ruh manusia memiliki 3 atau 4 daya, tambangi, nabati, hewani, dan akli, dan ianya menyatu secara fitrah dengan materi, maka ia memiliki kesempatan untuk menyempurna.

Tidak seperti malaikat baik Malakut (Barzakh) atau Jabarut (Akal) yang seluruh kesempurnaan mereka diberikan dalam Sekali jadi dan Sekali beri di awal penciptaannya.

(f) Dengan potensi yang ada itulah manusia bisa menyempurna melanglangi kesempurnaan seperti yang sudah dijlaskan di wahdarulwujud 1-12 dan di tempat-tempat lainnya. Artinya manusia dengan ruhnya yang bisa berproses dalam waktu itu, bisa melanglangi derajat2 wujud dari dirinya sendiri ke Barzakh, lalu ke Akal dan ke asma-asma Allah dalm Perjalanan ke Dua itu.

(g). Dengan penjelasan-penjelasan di atas itu dapat dipahami bahwa perubahan ruh manusia di tingkat Akal-akal yang tidak mengenal proses dan perubahan apapun itu adlah DIMOTORI dengan

kepotensiannya karena masih bersama badan, dan perubahan yang terjadi di puncaknya sana adalah perubahan tidak dalam waktu,alias perubahan kun fayakun. Persis nanti ketika manusia di akhirat berubah posisi dari neraka ke surga. Artinya tidak dalam waktu, tapi dalam pewujudan non materi dan di luar jaman/waktu, seperti kalau antum mimpi berjalan, keluar rumah, nikah, makan,..dst dimana semua kejadian di dalam mimpi antum itu tidak terjadi dalam waktu. Begitu pula kalau antum melamun dari satu hal ke hal lainnya dan semacamnya.

(h) Dengan semua penjelasan itu, Semoga dapat ditangkap hal mudah yang dibingungkan antum itu, yakni kontradiksi antara Akal non prosesi dengan ruh yang mencapainya yang masih dalam naungan prosesi.


Sekian

wassalam..
_________________

Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.

Comments:

Add Comments
Information
Would you like to leave your comment? Please Login to your account to leave comments. Don't have an account? You can create a free account now.