Set as default Homepage|Bookmark
 
 
Sinar Agama » Fikih » Cinta, Nikah, Cerai, Poligami dan Keluarga » Kewajiban Suami-Isteri dalam Rumah Tangga
Advertise

Kewajiban Suami-Isteri dalam Rumah Tangga

Kewajiban Suami-Isteri dalam Rumah Tangga



 
Zainab Naynawaa :
Salam, afwan ustad.
Pertama, salah satu kewajiban seorang istri melayani istri jika menolak berdosa, jika ada seorang istri meminta apakah ada kewajiban bagi suami untuk melayani dan apakah hukumnya jika suami menolak?

Kedua, jika dalam rumah tangga yang berperan mencari nafkah istrinya apakah hukumnya jika uang yang dihasilkan dari usahanya diputar dari usaha makanan menjadi usaha lain tanpa dibicarakan dulu sama suami sebab yang tahu pasaran dilingkngan tempat jualan istrinya.

Ketiga, hukumnya apa jika yang mengelola uang dalam rumah tangga seorg istri sebab untuk lebih memahami apa dan untuk apa uang dikeluarkan sementara laki-laki cenderung boros . Afwan, syukron.

Sinar Agama :
Quote:
Salam dan trims pertanyaannya.

(1). Kewajiban istri adalah melayani suaminya kala memintanya, tapi tidak sebaliknya. Tapi kewajiban suami memberi belanja, pakaian dan tempat tinggal yang layak dan semampunya, tapi juga tidak sebaliknya. Tentu kewajiban suami ini, manakala istrinya ada di rumah suaminya itu dan tidak menolak ketika diminta. Jadi, kalau suaminya tidak mau ikut dengan suaminya dan/atau tidak melayaninya walau tinggal dalam satu rumah, maka kewajiban nafkah itu menjadi gugur.

(2). Istri yg kerja dengan ijin suaminya adalah halal untuk bekerja. Dan uangnya adalah milik istrinya hingga bebas digunakan apa saja. Kecuali kalau suaminya dalam memberi ijin keluar itu meminta semacam saham dari kerugian yang dideritanya karena ketidak-adaan istrinya di saat-saat ia memerlukannya. Tapi walaupun tdk meminta bagian (terlebih karena dia makan dari istrinya dan bisa saja itu sudah merupakan bagian dia), dan walaupun sudah merupakan hak istrinya, akan tetapi kalau memang bisa dimusyawarahkan bersama, maka hendaknya dilakukan, demi menjaga romantisasi rumah tangganya. Tapi kalau sekiranya suamiya tidak tahu hal-hal karena pengangguran, maka bisa saja dengan memberitahukannya saja.

‎(3). Kalau uang yang mau dikelola itu uang istrinya, maka silahkan saja dan tidak haram, tentu dengan penjelasan di atas itu. Tapi kalau uang itu milik suaminya, maka istri tidak berhak mengaturnya kecuali belanja yang diberikannya itu. Karena istri hanya berhak menerima nafkah saja, bukan semua uang suami yang didapat dari kerjanya atau dari wariasan atau apa saja.

Nasihat:

- Dalam banyak kesempatan, syethan biasanya datang dengan banyak ide-ide yang nampak mulia. Tapi karena yang diwaswasi itu cinta dunia, maka idenya yang dianggap bagus itu diperjuangkan sebegitu rupa tanpa memperhatikan hukum-hukum Islam dalam mengatur keluarga. Hal seperti ini, tidak jarang membuat romantisasi keluarga menjadi hilang dan tidak mustahil akan berakhir kepada kebangrutannya sendiri, yaitu cerai.

- Ketika berpegang pada hukum jg tidak boleh terlalu kaku demi romantisasi keluarga. Jadi, harus ada semacam tarik ulur selama masih memungkinkan. Seperti isteri yg bisnis di atas yg menafakahi suaminya yang pengangguran. Begitu pula sebaliknya, tapi bukan berarti harus menyerahkan secara total hak-haknya, karena hal itu bisa menimbulkan keburukan di masa datang, seperti keserakahan dan semacamnya.Jadi, tarik ulurnya itu dalam arti ada saling memaafkan pada perbuatan-perbuatan yg kurang terpuji dari kedua belah pihak, tapi dengan usaha memberikan pengertian akan hak-hak Islaminya dan berusaha mencegah ketidak jelasan atau perampasan hak yang lainnya. Karena itu hukum fikih harus dijadikan paduan awal dan dasarnya, lalu akhlak romantisasi dan tarik ulur (yg masuk akal), selama masih bisa dilakukan, sudah selaknya dilakuakn demi kelanggengan keluarga.

Inon AlatasAfwan ustad, klo ɑ̤̥̈̊ϑǻ suami yg merasa berhak dng penghasilan istri...lalu si istri harus bagaimana mengatasinya.......

Sinar Agama
Quote:
Salam, kok bisa suaminya merasa? Perasaan dia itu tdk bisa diterima dlm Islam. Kecuali kalau dia mensyarati ketika istrinya mau kerja dan ia membolehkan dg syarat semua pendapatannya diberikan padanya dan menjadi haknya. Tp suami spt ini, walau mungkin tdk melakukan dosa, tp benar2 tdk bijaksana kepada istrinya.

Inon Alatas Memang nyatanya seperti Ȋ̝̊†̥ц tad,''merasa'' sebagai suami menguasai segala sesuatuny yg ɑ̤̥̈̊ϑǻ pd istri,Mungkin klo mo d blng yg lbh jelas lg dia menguasai apapn hak istriny, dr penghasilan sampe warisan, tanpa perjanjian, tanpa' syarat apapun trus si istri hrs mengambil tindakan seperti apa pd suaminy, Sedang sang suami tidak ℳα̇̇̇̊υ Τªΰ .......?? Afwan..

Sinar Agama
Quote:
Kalau harta warisan milik istrinya itu jelas tdk bisa diambil oleh suaminya, bgt pula harta2 istrinya yg lain yg didpt dari kerjanya itu (dlm kondisi yg ditanyakan ini). Jadi, haram suaminya mengambil harta istrinya itu kecuali dimaafkan dan diridhai istrinya. Jangankan harta istrinya, masak memasak dan cuci mencuci baju saja bukan hak suami. Hak suami itu hanya dlm kamar, mengijinkan atau tdk istri keluar rumah dan dlm kepemimpinan rumah tangga yg legal2 atau halal2, bkn spt mengambil harta istrinya atau bahkan sekalipun hanya dlm mencuci piring dan mamasak di rumah.
Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.

Comments:

Add Comments
Information
Would you like to leave your comment? Please Login to your account to leave comments. Don't have an account? You can create a free account now.