Set as default Homepage|Bookmark
 
 
» » » Waktu Maghrib
Advertise

Waktu Maghrib

Author: Sang Washi on 6-07-2013, 21:17
Waktu Maghrib
Facebook



Fahmi Husein :
(dikutip dari Wasa-ilsusy Syi’ah dan Jami’ Ahaditsisy Syi’ah) قال الصادق ( عليه السلام ) : إذا غابت الشمس فقد حلّ الإفطار ووجبت الصلاة Berkata Ash Shadiq (`alayhissalam) : "Jika sudah terbenam matahari maka sesungguhnya telah dihalalkan berbuka puasa dan telah diwajibkan shalat.” [Wasa-ilusy Syi’ah, juz 4, hal 183-184, hadits no.4858: http://www.rafed.net/book...ael-4/v10.html] روينا عن أهل البيت صلوات الله عليهم أجمعين باجماع فيما علماناه -1- (من الرواةك) عنهم ان دخول الليل الذي يحل الفطر للصائم هو غياب الشمس في أفق المغرب بلا حائل دونها يسترها من جبل أو حائط ولا غير ذلك- 2 - فإذا غاب القرص في الأفق - 4 - فقد دخل الليل وحل الفطر "Diriwayatkan kepada kami dari AhlulBait shalawatullahi `alayhim ajma`in setahu kami bahwa ijma’ ulama kami dari riwayat-riwayat mereka bahwasannya masuknya malam yang mana dihalalkan untuk berbuka puasa bagi yang berpuasa adalah terbenamnya matahari di ufuk barat tanpa adanya penghalang yang menutupinya berupa gunung atau dinding selainnya, Maka ketika terbenamnya bulatan matahari diufuk sesungguhnya telah masuk malam dan telah halal berbuka puasa” [Jami' Ahadist Asy Syi'ah juz 9 riwayat no.422 : http://www.elgadir.com/hadis/1/jami/09.htm]

وسائل الشيعة ج 4 ص
183 ـ 202

bagaimana dengan itu ustad?

Sinar Agama
Quote:
Salam:

Kan sudah sering Saya katakan bahwa jangan main hadits kalau bukan mujtahid. Karena hadits itu banyak ragamnya dan pertentangannya dimana hanya mujtahid yang tahu mana yang lebih kuat dan mana yang lebih benar. hadits-hadits yang sama dengan sunni, banyak diucapkan para imam dalam keadaan takiah, karena itu ambillah hadits yang tidak sama dengan sunni.

Para imam sendiri ketika ditanya tentang perbedaan hadits-hadits syi'ah, mereka as menjwb +/-: Abillah yang lebih terkenal, dan kalau sama-sama masyhuur/terkenal, maka ambillah yang sesuai dengan Qur an, dan kalau sama-sama sesuai, maka ambillah yang beda dengan sunni.

Begitu kira-kira makna dari anjuran pengambilan hadits-hadits yang bertentangan di syi'ah yang bisa termuat dalam berbagai kitab riwayat dan bahasa agama terutama ushulfiqih.

Fahmi Husein
Afwan ustad, benarkan menurut ayatullah behjat buka puasa-nya sama dengan sunny?

Fahmi Husein
Afwan ustad, ana lagi berdiskusi dengan sunnyyin mengenai waktu maghrib/berbuka puasa.

Dalam madzab syiah waktu maghrib sama dengan waktu berbuka kan? artinya masuknya maghrib adalah masuknya waktu berbuka, walau beda waktu dengan sunny yang menurut antum tambahan sekitar 45 menit?!
ini dialok kami;
    Saya (Fahmi):
    >Selain itu, dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat dari Umar bin Khattab ra bahwa Rasululah saw telah bersabda,
    "Apabila siang telah pergi dengan terbenamnya matahari, maka orang yang berpuasa telah boleh berbuka.” (Saya)

Dia (teman Fahmi):
coba perhatikan! dimana kalimat pada hadits tersebut yang mengharuskan langit gelap? yang ada justru hanya mensyaratkan "terbenamnya matahari" yang membolehkan orang yang berpuasa untuk berbuka, iya kan? sama Sekali tidak ada penegasan kalimat "langit telah gelap seluruhnya"! (dia)
    Saya:
    >Sementara adzan maghrib bukan dikumandangkan Setelah matahari tenggelam,
    >melainkan ketika matahari Sedang menuju proses tenggelamnya. (Saya)

Dia:
ini adalah asumsi pribadi anda, jika anda berasumsi demikian berarti anda telah su'uzhon kepada para muadzin yang mengumandangkan adzan maghrib bahwa mereka mengumandangkan adzan sebelum masuknya waktu maghrib.(dia)
    Saya:
    >sebuah keniscayaan Nabi Muhammad saww akan menyampaikannya,
    >sebab tidak ada sulitnya untuk menyampaikan itu, Sebagaimana
    >Nabi saww mengaitkan waktu imsak dengan adzan subuh, Sebagaimana hadits berikut,
    >dari Abdullah ra, katanya, telah bersabda Rasulullah saw, bahwa dengan suara adzan Bilal
    > yang biasa kedengaran tengah malam, makan minum masih dapat diteruskan,
    >dan batasnya adalah suara adzan bin Ummu Maktum.” (HR. Muslim). (Saya)

Dia:
Ya, opini ini Sebenarnya telah membantah dengan sendirinya asumsi penulis yang mengira bahwa adzan maghrib menjadi patokan waktu berbuka. Karena bagaimana mungkin ibnu ummi maktum mengetahui masuknya waktu shubuh padahal beliau adalah orang yang BUTA??? jadi jelas bahwa beliau mengumandangkan adzan untuk memberitahukan kepada orang-orang bahwa waktu shubuh sudah masuk, sedangkan beliau sendiri diberitahu oleh orang lain yang melihat tanda-tanda masuknya waktu shubuh, beliau tidak bisa melihatnya sendiri karena beliau BUTA! (dia)

Dalil apakah yang mensyaratkan hilangnya rona merah (syafaq) meskipun bulatan matahri telah terbenam?

Padahal Rasulullah SAW justru bersabda kebalikan dari yang disampaikan penulis, yaitu Rasulullah menyatakan sebelum hilangnya syafaq (rona kemerahan), berikut ini sabda beliau tersebut :

وقت صلاة المغرب إذا غابت الشمس ما لم يسقط الشفق

"Waktu shalat maghrib adalah ketika terbenam matahari sebelum lihangnya syafaq (mega merah)”
[Shahih Muslim, kitab almasajib wa mawadhi’ush shalah, bab awqatush shalawatil khams, hadits no.612]

Bahkan salah satu hadits syi'ah yang ana sebutkan juga menyatakan hal yang sama, yaitu sebelum hilangnya syafaq

عن أبي عبدالله ( عليه السلام ) قال : أتى جبرئيل رسول الله ( صلى الله عليه وآله ) فأعمله مواقيت الصلاة فقال

وعنه ، عن عبدالله بن جبلة ، عن ذريح ، عن أبي عبدالله ( عليه السلام ) قال : أتى جبرئيل رسول الله ( صلى الله عليه وآله ) فأعمله مواقيت الصلاة فقال : صلّ الفجر حين ينشقّ الفجر ، وصلّ الأولى إذا زالت الشمس ، وصلِّ العصر بعيدها ، وصلّ المغرب إذا سقط القرص ، وصلّ العتمة إذا غاب الشفق ، ثمّ أتاه من الغد فقال : أسفر بالفجر بأسفر ، ثم أخّر الظهر ، حين كان الوقت الذي صلّى فيه العصر وصلّى العصر بعيدها ، وصلّى المغرب قبل سقوط الشفق ، وصلّى العتمة حين ذهب ثلث الليل ، ثمّ قال : ما بين هذين الوقتين وقت ، الحديث . ثمّ قال : ما بين هذين الوقتين وقت

"Dari Abu `Abdillah (`Alayhissalam) beliau berkata: Jibril datang kepada Rasulullah (shalallahu `alayhi wa alihi) dan mengajarkan waktu-waktu shalat, lalu beliau berkata : … (jibril shalat pada waktu2 yang disebutkan dalam riwayat ini)…

dan shalat maghrib ketika terbenam bulatan matahari, dan shalat isya’ ketika syafaq telah hilang. Kemudian jibril datang lagi keesokan harinya: dan shalat maghrib sebelum hilang syafaq, …. Kemudian Jibril berkata: Waktu shalat adalah antara dua waktu ini.
[Wasa-ilusy Syi’ah, Juz 4, hadits.no.4797]
bagaimana pendapat antum tentang hadits-hadits tersebut bib Fahmi? (dia)
    Saya:
    >Semua mufassir sepakat, sebaik-baik penafsir ayat Al-Qur’an adalah ayat Al-Qur’an sendiri,
    >Setelah itu qaul Nabi saww. Kita lihat pada ayat lain dalam Al-Qur’an,
    >bagaimana Allah SWT menjelaskan tentang malam.
    >Dalam surah Yaasin ayat 37 Allah SWT berfirman, "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar)
    >bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu,
    >maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.”
    >Atau di ayat pertama surah Al-Lail, "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).”
    >Kita juga bisa lihat pada surah al-Falaq ayat 3, "…dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.”
    >Dari ayat-ayat tersebut yang bercerita tentang malam kita bisa menyimpulkan, malam adalah datangnya kegelapan.
    >Ketika siang dengan cahayanya yang benderang telah tertutupi dan tergantikan dengan kegelapan,
    >maka saat itulah disebut dengan malam. Begitu Al-Qur’an menyebutkan. (Saya)
Dia:
tidak ada yang mengingkari bahwa malam secara umum memang adalah gelap, tapi yang dibahas disini adalah waktu yang spesifik tentang kapan waku berbuka bagi orang yang berpuasa dan kapan waktunya jika ingin disegerakan, dan dalil-dalil yang ada merinci kapan masuknya waktu maghrib yang menjadi ambang batas antara siang dan malam. Jika hanya memaknai malam secara umum yaitu gelap maka tidak akan ada patokan yang spesifik kapan waktu untuk bersegera berbuka puasa, malam gelap bisa saja awal waktu isya' atau sepertiga malam yang pertama atau tengah malam atau sepertiga malam yang terakhir atau bahkan waktu sahur.

Padahal sudah jelas dalil-dalil yang menyebutkan Rasulullah mencontohkan beliau berbuka puasa ketika matahari terbenam meskipun langit masih terang. (dia)
    Saya:
    >Dan Sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 187 yang telah Saya sebutkan,
    >"Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” menunjukkan waktu berbuka
    >atau waktu untuk mengakhiri puasa menurut Al-Qur’an adalah ketika datang malam,
    >ketika langit diselubungi kegelapan, bukan Sebagaimana yang dipraktikkan kaum muslimin kebanyakan saat ini,
    >khususnya di Indonesia, yakni menjelang malam, bukan datangnya malam. (Saya)
Dia:
hal tersebut bukan hanya dipraktekkan oleh kaum muslimin saat ini khususnya di Indonesia, tapi juga dipraktekkan oleh Rasulullah shalallahu`alayhi wa aalihi wasallam serta para shahabatnya. Buktinya adalah hadits yang ana sebutkan diatas, ditambah hadits berikut ini yang juga pernah ana sebutkan:
dari Rafi’ bin Khadij bahwa dia mengatakan:

كنا نصلي المغرب مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فينصرف أحدنا وإنه ليبصر مواقع نبله

"Kami shalat maghrib bersama Rasulullah shalallahu`alayhi wasallam dan kami beranjak (Setelah selesai shalat) dan sesungguhnya salah seorang dari kami masih dapat melihat tempat jatuh anak panahnya”

[Shahih Bukhari, kitab mawaqitush shalah, bab waqtul maghrib, hadits no.534, Shahih Muslim, kitab almasajib wa mawadhi’ush shalah, bab bayan anna awal waktil maghrib `inda ghurubisy syams, hadits no.637]

Bagaimana mereka masih bisa melihat tempat jatuh anak panahnya jika langit telah gelap???

Justru ada hadits yang menyatakan sebaliknya, bahwa hal tersebut adalah tidak disukai/makruh, yaitu Rasulullah SAW bersabda:

لا تزال أمتي على الفطرة ما لم يؤخروا المغرب حتى تشتبك النجوم

"Ummatku akan senantiasa berada dalam fitrah selagi mereka tidak mengakhirkan Maghrib sampai munculnya bintang-bintang"[HR. Ibnu Majah & Ahmad]

Dan ada juga hadits syi'ah yang menyatakan hal tersebut (mengakhirkan waktu maghrib hingga munculnya bintang-bintang) adalah terlaknat dan perbuatan musuh Allah:

قال الصادق عليه السلام: " ملعون ملعون من أخر المغرب طلبا لفضلها، وقيل له: إن أهل العراق يؤخرون المغرب حتى تشتبك النجوم، فقال: هذا من عمل عدو الله أبي الخطاب

Berkata Ash Shadiq `alayhissalam: "Terlaknatlah! terlaknatlah! siap yang mengakhirkan Maghrib untuk mengharap keutamaan." Dan dikatakan kepada beliau bahwa penduduk Iraq mengakhirkan Maghrib sehingga muncul bintang-bintang. Maka beliau berkata: "Ini adalah amalan musuh Allah, Abul Khaththab.”
bagaimana pendapat antum tentang hadits-hadits tersebut bib Fahmi? (dia)
    Saya:
    >Allah SWT berfirman, "Demi langit dan yang datang pada malam hari,
    >tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?, (yaitu) bintang yang cahayanya menembus.”
    >(Qs. At Thaariq [86] : 1- 3).
    >Ketika ingin berbuka, perhatikanlah ke arah langit apabila telah mulai gelap
    >dan tampak minimal satu bintang (setahuku orang-orang menyebutnya bintang kejora) (Saya)
Dia:
Bagaimana dengan waktu berbuka bagi madzhab imamiyah menurut perhitungan website moonsighting.com yang pernah disampaikan oleh Hb.Muhammad Assegaf? disitu hasil hisab waktu maghrib untuk madzhab imamiyah hanya selisih sekitar 15 menit dengan madzhab sunni lainnya, apakah pada waktu tersebut sudah muncul bintang? padahal sampai 30 menit Setelah terbenam matahari pun langit sebelah barat masih merah yaitu syafaq belum hilang.
Bagaimana antum menjelaskan hal itu bib Fahmi? (dia)

Saya (ke Sinar Agama):

Mohon dengan sangat pencerahannya ustad, terima kasih banyak sebelumnya, semoga pencerahan dari antum sangat bermanfaat bagi kami

Intinya, sepertinya, dia beranggapan adzan magrib/masuknya waktu maghrib (sunny) adalah waktu tenggelamnya matahari walau langit masih terang (ada cahaya merah di sebelah barat/syafaq) bukan nunggu gelap betul, kalau nunggu gelap/hilangnya syafaq malah masuknya waktu isya', begitu ustad

Sinar Agama:
Quote:
Maghrib sunni itu tenggelamnya matahari. Dan syia'h juga seperti itu. tetapi tenggelam di syi'ah itu, bukan tidak terlihatnya, akan tetapi hilangnya mega merah di sebelah timur. Kalau sunni, hilangnya mega merah di sebelah barat itu yang dikatakan isyaa.

Tasytabiku-nya bintang itu, artinya jelasnya secara terang benderang sampai semuanya tampak dan saling bercampur satu sama lain. Bukan munculnya bintag. Karena itu, di hadits yang Saya nukil di atas itu, imam Abu al-Hasan, shalat 'isyaa Setelah tasytabikunnujuum dan shalat maghribnya ketika qashurannujuum. Qashurannujuum itu artinya baru munculnya bintang dan belum terlihat semua. Misalnya tentang hadits yang mencela orang yang mengakhirkan maghribnya sampai isytabaka itu seperti di bawah ini:

عن أبي عبدالله عليه السّلام : «من أخّرَ المَغربَ حتّى تَشْتَبِكَ النّجوم ... فأنا إلى الله منه بري ء» : 80 / 60 .

Dari Abu 'Abdillah as:
"Siapa yang mengakhirkan maghrib sampai syabaka-nya bintang2 .... maka Saya berlepas diri darinya kepada Allah"


Dan untuk makna syabaka-nya:


شبك :أي تَظهر جميعها ويَختلِط بعضُها ببَعْض ؛ لكثرة ما ظَهَر منها

Syabaka-nya bintang2: yakni munculnya semua bintang dan saling bercampur karena saling banyaknya.

Dengan demikian, maka syabaka-nya bintang2 itu, bukan hanya keluarnya bintang2, akan tetapi keluarnya semua bintang2. Ini yang juga dikuatkan dengan berbagai hadits yang menerangkan waktu shalat maghrib seperti di wasaailu al-syi'ah sendiri yang mengatakan:

((4838)) ـ وعنه، عن عبدالله بن جبلة، عن علي بن الحارث، عن بكّار، عن محمّد بن شريح، عن أبي عبدالله (عليه السلام)، قال: سألته عن وقت المغرب؟ فقال: إذا تغيّرت الحمرة في الأُفق، وذهبت الصفرة، وقبل ((أن)) (1) تشتبك النجوم.


Di hadits ke 4838 ini, imam Abu 'Abdillah ketika ditanya tentang waktu maghrib, beliau as menjawab:

"Ketika hilangnya mega merah di ufuk dan hilangnya kekuningan tapi sebelum syabakahnya bintang2"

Memang banyak hadits yang menerangkan bahwa maghrib itu adalah tenggelamnya bulatan matahari, akan tetapi banyak hadits juga yang menjelaskan kepastian tenggelamnya itu dengan hilangnya mega merah tersebut. Seperti hadits


عن الصادق ( ع ( ) وقت سقوط القرص ووقت الافطار من الصيام ان تقوم بحذاء

القبلة وتتفقد الحمرة التي ترتفع من المشرق ، فإذا جازت قمة الرأس إلى ناحية

المغرب فقد وجب الافطار وسقط القرص )

Dari imam Shadiq as:

"Waktu tenggelamnya bundaran matahari dan waktu berbuka puasa adalah dengan menghadap kiblat dan hilangnya mega merah di sebelah timur. Kalau mega itu telah melewati kepala kita ke arah barat, maka telah tiba waktu berbuka dan berarti matahari telah tenggelam."


Itulah mengapa dalam hadits yang lain diktakan:


مسّوا بالمغرب قليلاً فإنّ الشمس تغيب من عندكم قبل أن تغيب من عندنا.

"Berjalanlah di waktu maghrib sebentar, karena matahari itu telah tenggelam di kalian tapi belum terbenam di kami."

Dari semua penjelasan di atas itu, dapat diketahui bahwa ukuran maghrib itu memang tenggelamnya matahari. Akan tetapi, ukuran tenggelamnyaitu adalah hilangnya mega merah di sebelah timur atau mulainya bermunculannya bintang2.

Tambahahan:

1- Dari berbagai hadits, dapat dipahami bahwa syafaq itu adalah mega merah. Dalam hadits banyak keterangan tentang syafaq ini. Misalnya hilangnya mega merah di timur, atau tenggelamnya syafaq di barat. Dari hadits-hadits itu dapat dipahami bahwa safaq itu adalah mega merah di seluruh langit. Jadi, waktu maghrib itu adalah hilangnya mega merah di timur ke atas kepala kita seperti di hadits-hadits yang telah lalu itu dan untuk waktu isyaa adalah tenggelamnya syafaq dimana maksudnya di barat, seperti:


((4855)) 29 ـ وعنه، عن صفوان بن يحيى، عن إسماعيل بن جابر، عن أبي

عبدالله (عليه السلام)،قال: سألته عن وقت المغرب؟ قال: ما بين غروب الشمس إلى سقوط الشفق.


Karena itulah dalam kitab-kitab bahasa arab juga dijelaskan bahwa syafaq itu adalah merahnya langit Setelah matahari tenggelam, baik di timudi barat. Coba perhatikan kitab kamus arab al-Mu'jamu al-Wasiith ini:

( الشفق ) الشفقة وحمرة تظهر في الأفق حيث تغرب الشمس وتستمر من الغروب إلى قبيل العشاء

Syafaq adalah mega merah yang muncul ketika matahari tenggelam dimana berketeusan sampai menjelang waktu isyaa (petang).

2- Tentang jatuhnya panah itu, dapat dimengerti untuk ukuran timur tengah seperti di saudi atau Iran atau Iraq dan sekitarnya. Hal itu, karena negara-negara tersebut, bukan negara mendung dan kalau di Irang mendung, biasanya mendung salju yang justru berwarnya keputih-perak-an alias bersinar. Tapi ada dua orang ustadz di Indonesia ini, yang melihat gelapnya langit dikarenakan mendung hujan di Iran, persis dengan gelapnya 45 menit Setelah adzan maghrib sunni di Indonesia dan bahkan bulan purnama yang tidak tertutup mendung pada waktu itu, terlihat begitu memancarnya hingga cahayanya menerangi bumi dengan begitu menyorotnya. Jadi, kalau di Indonesia yang pada umumnya mendung dan bertumbuh-tumbuhan lebat, sangat sulit menerapkan hadits terlihatnya jatuhnya panah di waktu habis shalat maghrib tersebut.

Wassalam
 
Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.

Comments:

Add Comments
Information
Would you like to leave your comment? Please Login to your account to leave comments. Don't have an account? You can create a free account now.