Set as default Homepage|Bookmark
 
 
» » » Taqdir (Apa Salahnya Percaya Nasib Sudah Ditentukan Tuhan?)
Advertise

Taqdir (Apa Salahnya Percaya Nasib Sudah Ditentukan Tuhan?)

Taqdir (Apa Salahnya Percaya Nasib Sudah Ditentukan Tuhan?)

Ardhy Husain:

Salam ustadz.

Smoga slalu dalam keadaan sehat walafiat.

Saya mau brtanya :

Apakah kesalahan trbesar saat kita meyakini bahwa takdir baik dan buruk itu brasal dari Allah?

Bukankah penetapan

takdir baik dan buruk atas hidup seseorang, krna Allah yang maha tahu tlh mengetahui bahwa seseorang itu dengann ikhtiarnya akan memilih antara kedua takdir tsb?

Afwan ustadz.

Mohon pencerahannya.

 

Sinar Agama:  

Salam dan trims pertanyaannya: 
(1). Kesalahan terbesar adalah memfitnah Tuhan. Artinya, orang yang meyakini bahwa nasibnya sudah ditentukan Tuhan (seperti yang ada di agama Kristen dan Hindu), maka ia jelas sudah menfitnahNya, karna Ia tidak pernah menentukannya.
 
(2). Kalau seseorang meyakini nasib sudah ditentukanNya, maka ia telah menfitnah Tuhan telah malakukan kesia-siaan dengan menurunkan agamaNya yang penuh dengan perintah dan larangan itu. Habis, ngapain lagi manusia disuruh dan dilarang, kalau sudah ditentukan semuanya olehNya???
 
(3). Kalau seseorang itu meyakini nasbinya sudah ditentukanNya, maka ia akan selalu menfitanhaNya dalam setiap gagalnya, sakitnya, celakanya, kecelakaannya ....dst. Yakni ketika ia sudah berusaha dan hati-hati dan semacamnya. Padahal kegagalannya itu sangat-sangat belum tentu karenaNya. Sebab kegigihan usaha itu tidak menjamin teraihnya apa-apa yang diinginkannya. Karena bisa saja kurang profesional, atau bisa saja, terpengaruh lingkungan hingga kandas di tengah jalan.
 
‎(4). Kesalahan lainnya adalah orang yang gagal dalam usahanya (apa saja) yang telah dibarengi dengan usaha yang dianggapnya gigih dan profesional, adalah ketika ia gagal (disamping ia akan fitnah Tuhan Sebagai penggagal di atas), ia akan segera menfitnahnya untuk ke dua kalinya, dengan mengatakan bahwa "pasti ada hikmahnya". Yakni diyakininya bahwa ketidak sampaiannya itu karena semata-mata bahwa Tuhan melihat hal itu tidak berhikmah untuknya, karena Ia tidak mengijinkannya mencapainya.
 
‎(5). Kesalahan lainnya, disamping hal-hal yang sudah disebut ketika ia gagal itu, ia juga tidak akan lagi berusaha mencapainya kembali dengan usaha baru yang labih gigih atau lebih profesional. Hal itu disebabkan keyakinan dalam kesalahan ke duanya di atas itu. Yakni karena sudah menganggap bahwa gagalnya itu yang hikmah dan tercapainya itu tidak hikmah, maka ia tidak akan lagi berusaha mencapainya.
 
‎(6). Untuk masalah Tuhan tahu, memang Tuhan tahu, bahkan sebelum alam ini dicipta. Tuhan tahu siapa yang berusaha dengan baik (secara hakiki), siapa yang berusaha dengan gigi secara hakiki, siapa yang akan terkendala karena merasa gigih tetapi Sebenarnya tidak, merasa profesional padahal tidak. Tuhan juga tahu siapa yang akan berhasil dan gagal. Walhasil Tuhan tahu semua secara rinci atas ikhtiar-ikhtiar manusia dan sebab-sebab berhasil dan gagalnya.
 
Akan tetapi Tuhan tidak pernah menentukannya.
 
Jadi, siapa yang mau gigih berusaha untuk dunia atua akhiratnya, siapa-apa yang mau berdosa dan betaubat, siapa yang mau berdoa dengan membaca saja tetapi tidak mengaplikasikannya ...dst..... semua dan semua itu, tergantung kapada kita masing-masing dan Tuhan tidak ikut campur di dalam pilihan-pilihan kita itu. Tuhan hanya membantu kita manakala kita memintanya atau bahkan sering juga membantu kita tanpa kita memintanya.
 
Jadi, semua yang sudah terjadi, yang Sedang terjadi dan yang akan terjadi, semua merupakan tanggung jawab kita semua, bukan Tuhan.

 

Alfi Ramadhan:

tetapi jika seperti itu penjelasannya Saya masih belum bisa menemukan kesejalanan ke-maha tahuan Tuhan atas yang lampau dan akan datang, dengan Tuhan tidak menentukan garis nasib manusia. trims.

 

Sinar Agama:

Alfi: Kalau menurut antum sejalan, mengapa antum sendiri mentidak sejalankan? Karena antum mengatakan, bahwa pengetahuanNya tidak mungkin tidak sejalan dengan ilmuNya (menukil maksud, bukan leterlek)? Kan kalau menurut antum mengetahui dan menentukan itu adalah sama, maka semestinya antum tidak membedakan keduanya dalam pikiran dan tulisan?!!  
Dengan ini, maka Sebenarnya sangat mudah memahaminya, bahwa mengetahui itu mengetahui dan menentukan itu adalah menentukan serta keduanya itu jauh berbeda.
 
Bisa-bisanya Tuhan dikatakan menentukan manusia menjadi taat atau maksiat, hanya karena Tuhan tahu sebelum diciptakannya bahwa ia akan taat atau maksiat? Bukankah yang Tuhan ketahui itu adalah bahwa "Ia akan melakukan taat atau masksiat itu dengan ikhtiarnya sendiri" ???!!!
 
Tuhan itu tahu kalau manusia itu taat atau maksiat, bukan hanya Sebagai taat dan maksiatnya, tetapi tahu juga bahwa taatnya dan maksiatnya itu dilakukan dengan ikhtiarnya.
 
Nah, keMaha Benaran Ilmu Tuhan yang seperti ini jelas, tidak akan pernah menjadi penentu bagi taat dan maksiatnya seseorang.

 

Erna Maruf:

Allahumma sholli ala Muhammad wa aali Muhammad.

 

Singgih Djoko Pitono:

Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad...

 

Nursyam Yahya:

Afwan ust.

1. Yang d makasud takdir itu sbnarx apa.?

2. Apa hubngan ihtiar manusia dengann Tuhan.?

3. Smua tindakan manusia tidak d tntukan, cpaian2 atas tndkan manusia yang brlandaskan atas iktiarx sndri, apakah ada hbunganx dengann Tuhan.?

4. Posisi Doa kaitanx dengann ikhtiar manusia.?

5. Hubungan manusia dengann Tuhan, kaitanx dengann deterministik dan free will.?

6. Hbungan antra Tuhan dan manusia, itu hubungan yang sperti apa.? Mohon pencerahanx ust.

 

Singgih Djoko Pitono:

Saya memhami bahwa ada wilayah Allah dan ada wilayah manusia..

Maksud dari wilayah Allah adalah Qodo Allah atau ketentuan Allah.

Dimana, apa saja yang mutlak menjadi ketentuan Allah, maka akal manusia dengan tanggung jawabnya tidak tidak terkena beban hukum Allah. Seperti contohnya, Saya terlahir menjadi anak bapak/ibu Saya, bermata hitam (tidak biru), berambut demikian, lahir di jawa, berjenis kelamin laki laki, sudah sangat berhati hati dalam mengendarai mobil, eh tiba2 dari arah depan mobil dengan kencang menabrak sehingga mengakibatkan kematian, dll..

Saya memahami yang demikian ini, manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban kelak di yaumul hisab...

 

Sedangkan wilayah manusia, yaitu area dimana manusia akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah atas bagaimana manusia memfungsikan karunia teragung dari Allah yaitu "akal".

Yang mana, hanya dengan memfungsikan akalnya dengan benar saja , seorang manusia bisa membedakan antara yang terpuji dan tercela, mana perintah Allah mana yang bukan, mana yang haram, halal, makruh dll...

Bagaimana menurut ustadz ...mohon penjelasan please...

 

Radenmas Murdianto:

ustad cuma sedikit mempen dapat,jika para saudara/saudari percaya al qur an itu ada ilmu sejarah,tak ubah sejarah itu lah takdir yang sudah tertulis,nah Sedang diri kita dari pandangan itu diminta untuk ber ikhtiar.maap jika ada kesalahan. untuk masalah memfitnah coba dilihat lagi,apakah al qur an cuma hanya sejarah.jika membahas iman yang terakhir kesinambungan/hubungan dengan rukun yang lain juga di lepas

 

Nursyam Yahya:

Afwan.. Apkah Pada dri manusia dan sluruh yang ada di alam ini tidak ada k tetapan Tuhan, atau kah tidak adanya ktetapan Tuhan konteksx hanya pada apa yang akan di alami manusia, sperti yang ust contohkan di atas..? Afwan ust.

 

Alfi Ramadhan:

jika dalam konteks ke-maha tahuan Tuhan itu, mengetahui yang lampau dan yang akan datang. berarti jika pengetahuan Tuhan tentang manusia adalah "Ia akan melakukan taat atau masksiat itu dengan ikhtiarnya sendiri", maka itu telah membatasi pengetahuan Tuhan tentang apa-apa yang akan dipilih oleh manusia di masa mendatang. tidak adakah pengetahuan Tuhan tentang masa yang akan datang manusia (yaitu tentang pilihan a,b,c,d,e dst yang tersedia bagi manusia dan kelak salah satu akan dilpilihnya)? apakah tuhan tidak mengetahui tentang itu?

Tetapi karena Ia adalah Tuhan, tentu Ia mengetahui, jika tidak maka menurut Saya Ia tidak layak menjadi Tuhan karena ada hal yang Ia tidak ketahui, Sementara Tuhan mesti lah Maha mengetahui.

nah, mengapa Saya rasa pengetahuan-Nya mestilah sejalan (bukan sama, searti, atau semakna) dengan ke Maha menentukan segala sesuatu -Nya, karena bukankah segala yang ada berasal dari ketentuan-Nya? tidak ada sebutir atom pun yang luput/lepas dari ketentuannya.

 

kemudian, dakwaan "Tuhan itu tahu kalau manusia itu taat atau maksiat, bukan hanya Sebagai taat dan maksiatnya, tetapi tahu juga bahwa taatnya dan maksiatnya itu dilakukan dengan ikhtiarnya." seperti menyamakan Tuhan dengan "peramal" yang hanya tahu (itupun kalau peramal itu benar tahu) namun tidak bisa melakukan apa-apa atas yang diketahuinya. lalu apakah kerja Tuhan sekarang? apa Tuhan telah pensiun sejak 1400 tahun yang lalu? apakah Tuhan hanya tahu namun tidak menentukan apa-apa?

 

lalu apalah arti pengetahuan Tuhan yang tak mungkin salah, tanpa Ketentuan menjadikan yang diketahui nya terjadi?

 

memang mengetahui dan menentukan adalah hal yang berbeda, namun apakah hal yang berbeda harus juga tidak sejalan? mobil dan motor hal yang berbeda namun tidak harus tidak sejalan. dan tidak sejalan bukan berarti bertentangan pak. trims.

 

(maaf Saya kurang pandai menulis, namun semoga maksud yang ada dipikiran Saya, bisa tersampaikan)

Salam.

 

Sinar Agama:

Yahya:
(1). Takdir yang tidak berhubungan dengan detail2 perbuatan-perbuatan dan capaian-capaian manusia yang biasa disebut nasib, maka bermakna ketentuan2 Tuhan tentang makhluk sesuai dengan Hikmah, Ilmu dan BijakNya serta KuasaNya. Ini tidak ada pembahasan. Tetapi takdir yang menyangkut manusia yang dikatakan nasib manusia itulah yang diperdebatkan dimana di Islam hal ini ditolak. Dalilnya banyak Sekali, diantaranya adalah diturunkannya agama oleh Tuhan dimana takwa diwajibakanNya, mencari rejeki dan menjaga kesihatan untuk umur panjang atau mati syahid diperintahakanNya, atau mencari pasangan yang baik dan takwa diperintahakanNya ...dst. Kalau ingin yang lebih rapi, maka rujuklah tulisanku yang berjudul "Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi'ah" bagian dua (a dan b).
‎(2). Hubungan ikhtiar manusia dengan Tuhan adalah bahwa hak berikhtiar itu dariNya. Yakni Tuhanlah yang memberikan hak ikhtiar dan memilih itu kepada kita. Karena itu, Tuhan tidak menentukan nasib manusia.
‎(3). SEmua pilihan dan perbuatan manusia itu sudah jelas tidak ditentukan oleh Tuhan. Tetapi apakah tidak berhubungan denganNya lagi seperti sebagian orang meyakininya itu seperti yang dinukilkan ke kita tentang free will itu?
 
Sudah tentu tidak demikian. Apa saja yang ada di alam wujud ini adalah makhlukNya, baik langsung atau tidak. Karena akibatnya akibat, akibat juga bagi sebabnya. Karena itu, perbuatan manusia yang merupakan akibat manusia, juga merupakan akibat dariNya, karena manusia adalah akibat dan makhlukNya. Inilah hubungan pilihan dan perbuatan dengan Tuhan. Jadi, perbuatan manusia itu adalah akibat manusia dan sekaligus akibat dan makhluk Tuhan juga.
 
Akan tetapi, walaupun pilihan dan perbuatan manusia itu adalah makhluk Tuhan juga,karena sebelum munculnya perbuatan manusia itu, telah melwati ikhtiar manusia tsb, maka sudah jelas yang akan bertanggung jawab itu adalah manusia itu sendiri, bukan Tuhan.
‎(4). Doa itu adalah hakikat ikhtiar manusia. Artinya, justru ketika manusia itu memiliki kebebasan berbuat maka ia berdoa. Kalau manusia itu sudah ditentukan nasibnya, maka doa disini sudah tidak akan bermakna lagi. Karena mau berdoa atau tidak, dikabul atau tidak, akan tergantung kepada takdirnya. Tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Karena ketika orang itu berdoa, maka ia benar-benar mengharap pertolongan Tuhannya. Jadi, ikhtiarlah yang melogiskan adanya doa.
 
Kemudian, dengan doa itu justru manusia merasa bahwa dalam ikhtiar-ikhtiarnya, bisa salah pilih karena kekurangn ilmu dan pengetahuan serta kekuasaan. Karena itulah, maka ia memintaNya untuk membatunya dalam memilih dan dalam berusahanya itu agar supya kalau salah pilih, Ia bisa membatu meluruskannya, kalau ia salah jalan, Ia bisa meluruskannya, kalau salah pilih teman, Ia bisa melindunginya ...dst. Tetapi kalau sudah ditentukan semuanya olehNya, maka semua itu tidak akan terjadi kecuali sudah ditentukanNya. Lalu dimana posisi doa itu?
‎(5). Hubungan antara manusia dan Tuhan itu tidak deteerminis (sudah ditentukan nasibnya seperti yang ada di sebagian rukun iman sebagian muslimin) dan tidak juga free will seperti yang dinukilkan dari Mu'tazilah. Tetapi kalau Islam (syi'ah) adalah di antara keduanya. Penjelasan ringkasnya di point 3 di atas, dan sedikit rincinya di Catatan yang sudah disebut judulnya di atas itu.
‎(6). Pertanyaan no 6 itupun, intinya sudah dijawab di point 3 di atas itu.
 
Singgih: Saya tidak terlalu memahami maksud antum tentang wilayah Tuhan yang namanya qodho itu. Karena qodho itu adalah pewujudanNya. Jadi, ketika manusia memilih zina atau shalat, maka ketika keduanya terwujud itulah dikatakan telah diqodho' oleh Tuhan. Yakni telah diijinkan secara ciptaan untuk wujud. Jadi, qodho' itu justru sangat berhubungan dengan ikhtiar dan perbuatan manusia. Karena itu qodho' Tuhan itu adalah mewujudkan pilihan manusia. Lihat point 3 jwb-ku pada Yahya.
 
TEntang kelahiran dan kebermacaman rupa dan suku kita itu, memang bukan pilihan kita. Karena itu kita tidak akan dimintai tanggung jawabnya. Akan tetapi bukan pula ketentuan Tuhan, hingga kalau ada yang kulit hitam menuntutNya, bagit pula kalau ada yang cacat dst. Karena Tuhan tidak pernah menentukan kita seperti itu dan seperti sekarang ini.
 
Kejadian kita-kita ini adalah hasil ikhtiar kedua orang tua kita. Bagit pula mereka hasil dari ikhtiar lingkungannya. Kalau mereka-mereka itu tidak memilih untuk berbahsa Melayu maka kita tidak akan berbahasa Melayu. Bagit pula kalau mereka-mereka itu tidak kawin, maka kita-kita yang satu gen dengan mereka-mereka itu tidak akan lahir dan tidak akan sama bentuk-bentuknya.
Jadi, tentang kita-kita dan bentuk-bentuknya ini memang kita tidak akan ditanyakannya, tetapi kedua orang tua kita dan lingkungan sebelum kita, akan dimintai tanggun jawabnya oleh Tuhan. Misalnya, kalau orang tuanya dengan syahwat kepada orang lain tidur dengan istrinya hingga anaknya yang laihir jadi banci (seperti dalam hadits), atau orang tua yang pemabok dan lingkungan yang koruptor. Semua itu akan dimintai tanggung jawab olehNya karena telah membuat peluang besar bagi kita-kita untuk lebih tergoda kepada kebejatan-kebejatan itu.
 
Tetapi kalau kita ikutan bejat, kita juga akan dimintai tanggung jawab olehNya. Karena peluang yang ada itu tidak sampai membunuh akal kita yang mengerti mana yang baik dan mana yang jelek. Karena itu kita juga akan tetap akan dimintai tanggung jawab atas pilihan2 kita.
Akan halnya tabrakan itu juga demikian. Kita yang sudah hati-hati itupun tetapi akan dimintai tanggung jawabnya nanti. Karena, kalau kita hati-hati, tetapi kita tahu bahwa malam minggu ada pemuda-pemuda yang kebut-kebutan, dan kita masih saja keluar dan lewat jalan itu, maka bisa saja akan dimintai tanggung jawab nanti di akhirat kalau tabrakan dan mati. Tetapi kalau sudah logis beneran tentang hati-hatinya itu, maka sudah pasti kita akan lepas dari dosa dan siksa.
Untuk yang berkenaan dengan apa yang antum istilahkan dengan wilyah manusia itu, kira-kira sudah benar.
RM: takdir yang antum tulis itu adalah takdir yang baru yang tidak dikenali siapapun. Karena antum mengatakan bahwa takdir itu adalah sejarah yang ditulis di Qur an itu. Bukan itu yang kita bahas. Itu bukan takdir. Takdir itu adalah tulisan Tuhan tentang nasib manusia yang ditulis sebelum alam ini dicipta. Nah, siapa yang percaya ini maka ia adalah sunni yang menerakan kepercayaan kepada takdir baik-buruk ini Sebagai rukun iman ke enam. Tetapi kita-kita yang syi'ah ini tidak mempercayai takdir itu. Kita meyakini bahwa takdir itu hanya ada di agama-agama Kristen atau Budha.
 
Karena itulah, kalau ada yang mengatakan bahwa nasib manusia ini sudah ditentukan olehNya atau sudah ditulis dalam qadha dan qadarNyya, maka ia telh memfitnahNya. Karena Ia tidak pernah menulisnya dan/atau menentukannya.
Yahya: Ketetapan tentang manusia ini sudah tentu ada. Seperti bentuk badan yang seperti sekarang ini (bukan warna kulit, tinggi, suku ...dst karena hal-hal ini bisa sangat bersangkutan dengan ikhtiar orang tuanya). Atau seperti ketentuannya yang berbunyi, misalnya: "Bahwa manusia itu berbuat sesuai dengan pilihannya sendiri dan akan dimintai tanggung jwb nanti di akhirat dimana kalau baik akan dimasukkan surga dan kalau tidak maka akan dimasukkan neraga ....dst"
Jadi, yang kita tolak itu HANYALAH takdir yang disebut dengan nasib itu, bukan sembarang ketentuan2 yang lainnya.
Alfi:(1). Antum ini sulit keluar dan memahami tulisan2 kita kalau antum tidak keluar dulu dari keyakinan antum sebelumnya yang baisa dipatok di rukun iman ke enam itu.
SEmua yang terjadi ini pasti dengan ijinNya dan penciptaanNya. Tetapi tidak semuanya terjadi dengan ikhtiarNya secara langsung. Tuhan beriktiar atau menentukan bahwa manusia harus memilih sendiri perbuatannya. Nah, ketika manusia memilih, maka ia memilih sesuai dengan ikhtiarnya dan sesuai pula dengan ikhtiarNya yang mengikhtiari bahwa manusia itu berbuat sesuai dengan pilihannya.
 
Jadi, biar putaran atompun terjadi karena kehendakNya, bagit pula daun yang jatuh. Tetapi kehendak ini, bisa langsung dan bisa juga tidak. Daun yang jatuh karena kita petik atau karena angin, adalah sesuai dengan kehendakNya. Tetapi tidak langsung. Yang satu lewat ikhtiar mansuai dan yang lainnya lewat angin yang tidak punya akal dan yang tidak akan dimintai tanggun jawab nantinya.
 
Nah, ketima ikhtiarNya itu tidak langsung dan bertemu dengan ikhriar manusia, maka manusialah yang memilih perbuatannya itu, bukan Tuhan. Karena Tuhan hanya mengikhtiari bahwa perbuatan manusia itu melalui ikhtiar manusia.
 
Antum ini juga ada anehnya. Kok bisa kalau Tuhan tahu pilihan manusia dengan ikhtiarnya itu, dikatakan membatasi ilmuNya. Apa hubungannya? Sudah tentu dong, bahwa Tuhan itu tahu berbagai pilihan yang akan dihadapi manusia, tetapi Tuhan juga tahu apa yang akan menjadi pilihan akhir dari manusia si Fulan itu. Tuhan tahu dengan pasti bahwa si Fulan itu akan berbuat dosa dengan pilihannya dan akan taubat Setelah itu juga dengan ikhtiarnya. Lalu Setelah itu melakukan dosa itu lagi dengan ikhtiarnya sendiri juga, lalu bertaubat lagi berdoa lagi ....dst sampai akhir.
‎(2). Ketika antum mengatakan bahwa kalau Tuhan tahu pilihan manusia yang dilakukannya dengan ikhtiarnya itu sama dengan peramal, nah ... tambah lucu saja. Karena peramal itu tidak tahu secara pasti. Tetapi pengetahuan Tuhan itu adalah pasti. Yang ke dua, peramal bukan pencipta alam dan manusia itu sendiri. Sementara Tuhan adalah pencipta alam dan manusia dimana termasuk peramalnya itu sendiri. Kemudia, peramal itu tidak menetukan ikhtiar manusia, tetapi Tuhan menentukan ikhtiar manusia itu. Karena itu, sangat lucu kalau dikatakan bahwa kalau Tuhan tahu akan pilihan manusia maka berarti Tuhan itu nganggur dan pensiun.
 
Allah itu Maha Akrif sertiap sepersejuta detik sekalipun. Karena itu Ia tidak pernah pensiun dan nganggur. Kalau bukan karenaNya, maka alam ini tidak akan bertahan walau sepersejuta detikpun. Hanya karenaNyalah alam ini tersusun dan berputan dengan indahnya dan kokohnya.
 
Semua itu tidak bertentangan dengan ikhtiar manusia. Karena ikhtiar manusia ini justru kareana ketentuanNya dan terus berjalan sesuai dengan Kuasa dan kontrolNya. Karena itu, maka tidak ada manusia yang terpaksa di muka bumi ini. Kalau bukan karena kontrolNya, maka manusia ini sudah pasti akan menjadi robot2 yang tidak berikhtiar.
 
Cermati point ke 3 jawaban pada Yahya di atas itu, hingga antum memahami bahwa betapa Tuhan itu Maha Aktif. Karena Ia adalah sumber dari semua akibat2 yang tidak pernah berhenti di alam ini.
 
Akan tetapi, kebersumberanNya atas semua yang terjadi di alam ini, bukan berarti nasih manusia itu ditentukanNya atau pilihan manusia itu adalah pilihanNya. Jadi, Tuhan hanya menjadikan atau mengqodho' dari pilihan2 manusia2 itu dan, sudah tentu yang akan bertanggung jawab itu adalah manusia itu sendiri.
 
‎(3). Pengetahuan pasti Tuhan itu, benar-benar tidak ada hubungannya dengan ketentuanNya. memang bisa saja ketentuan itu sejalan dengan pengetahuan. Karena kalau menentukan sudah pasti mengetahuinya. Tetapi tidak sebaliknya. Yakni tidak berarti yang mengetahuinya itu telah menentukannya.
 
Kita saja banyak mengetahui hal pasti, tetapi sudah pasti bukan kita yang menentukananya. Seperti kalau orang terkena penyakit tertentu, dokterpun bahkan bisa memperkirakan umur pasiannya. Apakah pengetahuan dokter itu adalah menentukan di pasien mati? Atau kita tahu pasti bahwa kalau si Fulan itu menyuntikkan obat yang ada virus penyakitnya, maka ia akan kena penyakit tsb (seperti aids). Dan kalau sudah kena, maka akan mati dalam waktu bbrpa tahun. Nah, apakah kita yang tahu itu berarti menentukan si Fulan itu mati????!!!
 
Jadi, kalau menentukan, maka sudah pasti sejalan dengan mengetahuinya. Tetapi kalau mengetahui, belum tentu sejalan dengan menentukan. wassalam

 

 

Singgih Djoko Pitono:

Afwan ustadz,,,

Wilayah Tuhan yang Saya maksud adalah area dimana manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan, dan Saya ngertinya itulah yang namanya Qodo Allah, yaitu "Ketentuan Allah"...yang mana biasanya itu adalah bahasan-bahasan yang menjadi hak penuh Tuhan untuk mengetahuinya...manusia tahu tapi sedikiiiiitt...bahkan sangat-sangat sedikit dan akal manusia tak akan mampu menyentuh hakikat dari Ketentuan Allah ini....atau Allah sering bilang dalam firmanNya ..itu adalah urusanKu...sesuatu itu tidak terjangkau oleh akal manusia...jadi akal manusia bisanya hanya tunduk patuh pada "Ketentuan Allah" ini...sami'na wato'na..

 

Mungkin contoh gampangnya, ketika Allah memerintahkan kepada iblis dan malaikat untuk bersujud ke adam, maka malaikat melakukannya tapi iblis tidak...

Perintah tuhan itu adalah "Ketentuan Allah", yang mana seharusnya sami'na wato'na saja, maka ketika "Ketentuan Allah" dipertanyakan, diotak atik nilai kebenarannya, jadinya ya kaya Iblis...dilaknat..

 

Sebuah contoh terjadi beberapa hari kemarin di Melbourne, Seekor anjing piaraan milik seseorang terlepas dari pantauan pemiliknya (hal yang tak pernah terjadi puluhan tahun sebelumnya )dan masuk kerumah tetangga sebelahnya, kemudian menyerang anak kecil 4 tahun yang Sedang menonton TV, yang mengakibatkan kematiannya.

Kejadian yang benar-benar diluar kendali akal manusia...

 

Nah...bagi Saya merupakan pelajaran bahwa yang seperti itu adalah sangat mudah bagi Allah (pengetahuan Allah), tapi kejadian tsb bukan disetting Allah, Saya yakin itu..Tetapi kemudian Saya menyebut itu Sebagai "Qodo Allah"....siapa sih yang pernah bayangin, bahwa kematian anak kecil itu ternyata ketika dia Sedang menjalankan rutinitas sederhananya...nonton tv ditempat yang bener2 terjaga, dipantau, dikendalikan oleh orang tuanya...

Mohon ustadz pencerahannya kepada yang miskin ilmu ini...syukron

Saya tetap berkeyakinan seperti yang ustadz sering paparkan, bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah dan Allah tidak pernah mendatangkan keburukan kepada manusia...

Semua keburukan yang menimpa manusia adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri...

Sungguh arrahman arrahim..pun meski begitu Allah selalu memberikan obat pada setiap keburukan yang dicipta manusia...


 

Yetty Fathimah:

Afwan.. Msih ikut nyimak.. Penjelsan yang sngat mencerahkan.. Syukran ustadz, syukran smuanya..

 

Sinar Agama:

 

Singgih: (1). Antum sudah merambat kemana-mana: Qodho dan Qadar itu sulit karena sunni meyakini bahwa semua tentang nasih manusia itu sudah ditentukan Tuhan. Kalau bereka ditanya, kalau bagit tidak ada gunanya agama diturunkan, tidak ada gunanya neraka surga diciptakan, tidak ada gunanya akal dicipta, tidak ada ada gunanya ikhtiar dicipta, tidak ada gunanya anjuran mati syahid, tidak ada gunanya perintah mencari istri yang baik, tidak ada gunanya perintah mencari rejeki ....dst.... ?????? Nah, ketika mereka tidak bisa menjawab ini, maka mereka biasanya berkata bahwa Qodho dan Qadar itu daerah yang hanya khusus Tuhan dan tidak ada orang yang mengetahuinya.
 
Lah ... ini kan tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin ada ajaran tentang iman kepada qodho dan qadarnya tetapi tidak dipahami. Trus yang diimani itu apa?
 
Ketahuilah bahwa Qadar itu adalah ketentuna2 Tuhan tentang alam dan manusia. Tetapi kalau tentang nasib manusia maka ketentuannya itu adalah bahwa manusia harus memilihnya sendiri dan berusaha sendiri. Artinya, Kuasa Tuhan itu akan diselaraskan dengan pilihan manusia. Kalau manusia ingin zina dan sudah keputusan pasti, maka Tuhan mengirinya mewujudkan itu. Bagit pula kalau mau malas dan miskin, malas dan bodoh ...dst.
 
Nah, ketika ikhtiar manusia itu sudah wujud sesuai pilihan manusia dan Kuasa Tuhan yang mengantarkannya ke alam wujud, maka itulah yang dikatakan Qodho'. Qodho' yakni keputusan akhir. Karena itu hakim pengadilan itu dikatakan Qodhi, atau "Yang memutus". Nah, maksud Qodho' ini adalah pengejwantahan dari pilihan2 manusia oleh Kuasa Tuhan yang tersalur lewat manusia, seperti tenaganya, pikirannya, ikhtiarnya, nafasnya, nafsunya ...dst.
 
Jadi, tidak ada yang ruwet. Tetapi kalau mengimani qodho' dan qadarNya (baik-buruknya), maka sudah pasti akan ruwet dan tidak akan pernah selesai walaupun di akhirat atau bahkan dengan Ilmu Allah sendiri. Karena hal itu jelas bertentangan dengan Ilmu dan Adil serta BijakaNya.
 
‎(2). Antum Semakin kacau manakala mengatakan tentang perintah Tuhan pada malaikat (dimana iblis di dalamnya). Karena itu bukan ketentuan Tuhan atau Qadar Tuhan. Bukan ya akhi. Jadi, contoh antum ini Semakin jelimet kalau dilihat dari bahasan kita tentang qadha dan qadar ini. Karena yang dikatakan Sebagai Qadar atau ketentuan itu, adalah ktetentuan2 terhadap sesuatu yang akan terjadi. Jadi, dalam ilmu Tuhan, semua yang akan diadakan, baik itu keberadaan makhluk atua perintah atau syariat ...dst, sudah ditentukan olehNya. Jadi, nafas Qadar ini adalah ketentuan sebelum terjadi. Jadi, sebelum Tuhan memerintah iblis atau bahkan sebelum alam ini terjadi, Tuhan sudah menyusun semua itu. Nah, susunan itulah yang dikatakan qadar atau ketentuan.
 
Karena itu ketika semua terjadi atau terwujud, seperti adanya nabi Adam as atau turunnya perintah Tuhan untuk sujud itu, adalah Qodho'Nya, atau keputusan akhirNya atau pewujudanNya. Jadi, sangat jauh berbeda dari yang antum katakan.
 
‎(3). Antum Semakin tambah kehilangan fokus ketika mencontohkan anjing itu. Karena kalau antum yang punya anak itu, maka antum sudah pasti tidak akan berkata seperti itu. Antum sudah pasti akan menuntut si empunya anjing. Karena tidak terlepasnya anjing puluhan tahun dari kandangnya itu, bukan dalil bagi terlepasnya sekarang. Kalau anjing itu tidak dipelihara di rumah tsb, atau dipelihara tapi kandangnya selalu diperiksa (sesuai umur), atau menjaga makannya supaya tidak liar, ...dst... maka semua itu tidak akan terjadi.
 
Kontrol manusia itu ada yang dekat ada yang jauh, ada yang langsung ada yang tidak langsung, ada yang berupa kemungkinan dekat, ada yang berupa kemungkinan jauh....dst. Karena itulah dalam filsafat, mau tidak mau, org yang memelihara anjing itu dikatakan memaukan penyerangan itu. Tetapi dengan kemauan filosofi dan bukan perasaan. Karena akal tetap memungkinkan bahwa memelihara anjing liar tsb akan memangsa orang atau tetangga.
 
‎(4). Nah, ketika kita sudah bisa mengerti tentang Pemelihara Anjing itu, yang melakukannya dengan ikhtiarnya dan melampaui semua kemungkinan2 akalnya, hingga masih tetap saja memeliharanya, maka kunci terbunuhnya anak kecil itu sudah ketahuan.
 
Artinya ia dibunuh orang atau anjing. Bukan ditentukan Tuhan. Inilah yang Saya katakan fitnah pada Tuhan yang pasti akan dimintai tanggung jawab nanti di akhirat. Enak saja, Tuhan yang Maha Kasih menentukan anak maksum tak berdosa itu, dicabik-cabik anjing gila punya tetanggganya. Tuhan macam apa itu?!
 
Karena itu yang akan dimintai tanggung jawab olehNya nanti di akhirat, adalah si pemilik anjing itu.
 
Lagi pula, ketidak terkontrolnya akal kita itu bukan berarti hal tsb adalah ketentuanNya. Akan tetapi karena ikhtiar kita itu juga berurusan dengan alam dan sosial kita. Orang tua si anak yang sudah semacam menjaga anaknya (Saya katakan semacam karena kalau tutup pintu maka anjing itu tidak akan bisa masuk), tidak bisa menentukan semua yang terjadi itu atas kontrolnya. Karena ia hidup berlingkungan yang sudah tentu bergesekan dengan ikhtiar-ikhtiar orang lain yang ada dalam lingkungannya itu.
 
Karena itu, maka setiap hal harus dilihat secara teliti dan menyeluruh. Jangan hanya ikhtiar satu orang yang trus dilawankan dengan Qadar Tuhan. Itulah mengapa agama atau bahkan hukum di setiap negara, selalu mengatur ikhtiar-ikhtiar sosial itu. Karena itulah, maka ada pengadilan dan semacamnya.
 
Kalau semua hanya dipilih antara ikhtiar satu orang dan Qadar Tuhan, maka buat apa pengadilan2 itu? Atau kalaulah berfungsi, hanya berfungsi untuk mengadili satu orang yang memang berikhtiar ingin membunuh, tetapi tidak bisa mengadili orang ngantuk yang tetap nyetir, orang mabok yang tetap nyetir, orang yang punya anjing di atas ...dst. Karena dilihat dari sisi yang dianiaya atau dibunuh atau ditabrak ...dst semua itu adalah Qadar Tuhan. Lah enak banget???!!!
 
Dan bahkan, sekalipun seseorang itu sudah dengan sengaja membunuhpun, kalau dilihat dari kaca mata qadar dan takdir ini, maka dari dua2 sisinyapun ditentukan Tuhan. Baik yang membunuh atau yang mati terbunuh.
 
Lah ... trus buat apa pengadilan???? trus buat apa surga neraka????!!!
 
‎(5). Untuk keburukan juga begitu. Allah memang benar tidak menurunkan keburukan, tetapi Tuhan juga tidak pernah menurunkan kebaikan. Inga yang kita bahas ini adalah ikhtiar manusia itu. Bukan manusianya, bukan alamnya, bukan keindahan alamnya, bukan .....dst. Jadi, yang kita bahas ini adalah keburukan karakter atau nasib manusia.
 
Ketahuilah bahwa Tuhan disamping tidak menurunkan nasib buruk, juga tidak menurunkan dan tidak menentukan nasib baik. Yang ada dari ketentuanNya, adalah "Bahwa manusia untuk jadi baik dan buruknya harus berikhtiar sendiri" Ini yang ada dari qadarNya.
 
Allah tidak pernah menentukan manusia itu kaya hingga kemudian manusianya itu yang merubah jadi miskin. Allah tidak pernah menentukan manusia itu punya istri shalihah lalu dia sendiri yang merubahnya dengan istri muda yang reseh (tidak baik). Allah tidak pernah menentukan seseorang itu mati syahid, hingga dia sendiri yang merubah hingga mati karena aids. Allah tidak pernah menentukan manusia itu sihat hingga ia merubahnya jadi sakit. Allah tidak pernah menentukan manusia itu beriman hingga ia sendiri yang merubahnya jadi kafir. Allah tidak pernah menentukan manusia itu syi'ah hingga ia jadi selain syi'ah. Allah tidak pernah bahkan menentukan bahwa bangsa Indonesia itu Indonesia hingga mereka sendiri merubahnya entah jadi apa. Allah tidak pernah menentukan Saya Sebagai anak ayah Saya hingga dikatakan bahwa ayah Saya merubahnya. Allah tidak pernah menentukan anak negero itu hitam hingga dikatakan ayahnya yang tidak merubahnya jadi putih. Allah tidak pernah menentukan anak cebol itu cebol hingga dikatakan bahwa ayahnya tidak merubahnya jadi normal. ..........BEGITU PULA SEBALIKNYA DARI contoh-contoh ITU.
 
SEmua itu adalah hasil ikhtiar manusia. Apakah ikhtiar manusianya secara langsung, seperti kafir dan tidaknya, takwa dan tidaknya, atau tidak langsung dan merupakan akibat dari ikhtiar orang lain, seperti si cebol, si negero ...dst.
 
Yang ada dari Qadar Tuhan adalah, bahwa manusia kalau kawin dan tidak mandul maka akan melahirkan anak. Anaknya akan mirip dengan ayahnya. .........dst. Tetapi bukan menentukan bahwa Saya lahir dari ayah Saya. Si cebol Fulan itu harus lahir tgl sekian dari ayahnya itu ....dst. Tidak demikian.
 
Tetapi Tuhan hanya memberikan ikhtiar dan qadar2 umum tadi. Nah, karena ayah Saya memilih kawin dengan ibu Saya, dan tidak ada penghalang dari sisi kesihatan dst untuk hamil dan melahirkan Saya, maka lahirlah Saya ini. Jadi, Saya lalhir ini bukan ketentuan Tuhan, tetapi karena merupakan akibat dari ikhtiar kedua orang tua Saya (Semoga Tuhan selalu menghangati kedua orang tua Saya itu dengan perlindungan dan rahamtNya).
 
Dan tentu saja, setiap akibat dari manusia itu, juga merupakan akibat dari Tuhan (Sebagaimana sering Saya jelaskan di atas). Karena itu maka Tuhan itu Maha Aktif (tetapi tanpa perubahan, jd tidak seperti aktifnya makhluk). Karena Tuhan selalu mengiringi keakibatan perbuatan manusia dan, karena itulah maka yang terwujud dari ikhtiar manusia itu, karena sudah diiringi dengan ijin ciptaanNya (walau mungkin tidak diijinkan secara syariat seperti membunuh), maka dikatakan Sebagai Qodho' atau Putusan Akhir Tuhan. wassalam

 

 

Singgih Djoko Pitono:

Ustadz...terima kasih telah mengurai sedemikian rupa hingga memaksa Saya harus mengomentari ulang apa-apa yang ustadz sampaikan.

Maafkan atas kekurangpandaian Saya mengemas kalimat sehingga yang Saya maksudkan dalam kalimat-kalimat Saya, sepertinya sampai ke ustadz tidak seperti yang Saya harapkan.

 

Dari awal Saya meyakini bahwa tentang Qodho dan qodar adalah seperti yang ustadz paparkan. Bahwa Allah tidak ikut campur di wilayah manusia. Bahwa Allah tidak pernah menentukan nasib manusia. Bahwa baik dan buruk tidaklah datang dari Allah...

Sungguh Saya meyakini itu...

 

Ada perbedaan mendefinisikan apa itu qodho dan apa itu Qodar...

Saya memahami qodho adalah Ketentuan Allah....yaitu sebuah wilayah yang akal manusia mustahil untuk merambahnya...maka bahasa gampangnya manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah...Saya tidak mendifinisikan bahwa Qodho adalah Sebagai Allah yang menentukan nasib manusia, menetukan setiap kejadian, menentukan pilihan manusia, Sekali lagi tidak. melainkan sebuah wilayah dimana manusia tidak dimintai pertanggungjawaban kelask.

 

Kemudian tentang Qodar adalah Ketetapan Allah...

Kita ketahui bahwa di setiap ciptaan Allah ada ketetapan2 yang pasti berlaku, selanjutnya ketetapan tsb bisa kita sebut sbagi khasiat...

misal : api ...khasiat api adalah untuk membakar...air khasiatnya yang paling tampak adalah menyiram...dll

 

Kemudian pertanyaannya, Ketetapan apa yang telah Allah tetapkan pada diri setiap manusia? Ternyata disetiap manusia ada ketetapan2 seperti bahwa manusia mempunyai nafsu nafsu, seperti nafsu beragama, nafsu mempertahankan diri, nafsu sex...

 

Nah ..ketetapan Allah yang ada pada manusia, yang berupa keinginan, nafsu2 inilah, yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak...

tergantung manusia itu bagaimana memfungsikan akalnya untuk mengendalikan nafsu2 yang dipunyai tsb...

JIka benar sesuai dengan perintah Allah maka perbuatan tsb adalah terpuji dan bisa dipastikan Surga yang diciptakan Allah akan berfungsi dan demikian halnya neraka.

 

Maafkan atas kekurangcerdasan Saya...Saya akui itu..

 

Tentang analogi yang Saya sampaikan atau dengan mengambil contoh yang tidak sesuai dengan bahasan kita, itulah kekurangtahuan Saya. Sekali lagi jangan pernah bosan menasehati Saya...

 

Terima kasih pencerahannya...Semoga Allah melimpahkan kebaikan pada ustadz....aminnnn

 

 

Baim Upik : sinar : Salam...
mohon doa nya untuk kita smua , khusus nya Saya,agar mudh memahami penjelasan-penjelasan diatas,kalo harus mengulang2 terus dr atas, ya ga papa sih, tapi ngelu juga sirahe niki...
Demi Tuhanku, takdir dan nasib ini sudah sangat lama saya<!--/filter--> <!-- /filter --> mencari jwbn nya, ta
pi...
Alkhamdulillah,saya<!--/filter--> <!-- /filter --> masih belum klik alias "bingung",hehehe mgkn karena ngelu td kali ya
Singgih : senang bertemu dgmu disini, Salam utkmu
saya<!--/filter--> <!-- /filter --> akan mencoba kembali membacanya,
Minta doa nya teman teman...
Bismillah...

 

Sinar Agama : 

Baim: Kalau antum memang menganggap kami ini saudara, maka haram bagi antum kalau tidak mengetuk pintu kami ketika perlu bantuan kami. Syeah ... pakai kami nih biar agak resmi he he..walhasil bgtlah maz Baim. Haram hukumnya kalau antum merasa asing dengan-ku dan aku tidak rela dibegitukan oleh saudaraku. Jadi, Tolong jangan pernah segan. Mau tanya kek, ngulang2 kek, mau debat kek, bertengkar kek (asal dalam koridor dhulur)......Dan sudah pasti aku akan mendoakan antum.

 

Baim Upik : Baiyuuuhhhhh.....lakok malah haram2an iki....ladalah....
malah pake ga rela ga relaan segalaa.....
Menyangkut masalah diatas, haram nya ada dalilnya pa ga? kalo ga ada, jatuhnya bid ah lho....mengutip komen sinar agama dalam Catatan nya tntang bid ah, yaitu menambah atau mengurangi hukum yang sudah ada....hehehehe
 

 

Baim Upik : sabar...sabar anak muda...kendalikan emosimu...
ok...ok....piss man...pisss....(#sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan#)
baik lah...aq akan mengetuk pintu kalian...(ciyeeehhh..#menandingi kata "kami" yang engkau gunakan#),he
hehe...
ketahuilah, komen sinar diatas mempertegas hujjah bahwasanya persaudaraan ini telah terjalin dengan sangat mesra...
Aq akan berusaha menolongmu untuk tidak segan, untuk bertanya, ngulang2, debat, tengkar....Gimana...akuurr????

untuk itu semua, aq ucapkan terimakasih yang setulustulusnya atas semua ilmu yang engkau sampaikan, atas kehangatan yang kau berikan
terimakasih juga telah sudi mendoakan ku....
semoga engkau di berikan ALLAH kebaikan di dunia dan di akhirat,

salaammmm...saudarakuuu.......
 

 

Sinar Agama :

Baim: Bid'ah itu kalau nambahi hukum untuk selainnya, tapi kalau untuk si Baim, malah wajib .... he he he he .... syukur kalau kami ...eh ...aku tidak bertepuk sebelah tangan. He he he ... trims buat antum mas Baim, yang telah sudi menerima lamaranku ini ....he he ... Semoga kita bisa menjadi teman kencan di tepian telaga ilmu-ilmu keagamaan. Pok ke ...monggo2 wae, kapan arep ngetok pintuku .... 

 

Baim Upik : beh...beh...beeehhh....malah wajib???
luar biasa....ok lah kalo begitu....
trims juga buat engkau dik sinar, semoga bermanfaat dan jauh dari kemudhorotan,
ajib dah mantap....
pokokoe siapp ndaaaannn.....
Salam teman kencan ku....

 

Dicky Jalianus : assalamualaikum ustadz, mau nambah pertanyaan, biasanya ayat-ayat dibawah ini adalah dalil yang dipakai untuk qadha dan qadar, bagaimana menurut ustads?

1.Artinya : "Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS.
Al-Furqan : 2)

2. Artinya : "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya.” (QS.Al-Hadid: 22)

3. Artinya: "Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz)”.(QS. Ar-Ra’d: 39).

4. Artinya:” Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun”. (QS. Yunus: 49).

mohon pencerahannya ustad, apakah dalil-dalil itu berhubungan dengan qada dan qadar atau takdir?
 

 

Sinar Agama :

Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.

Comments:

Add Comments
Information
Would you like to leave your comment? Please Login to your account to leave comments. Don't have an account? You can create a free account now.