Set as default Homepage|Bookmark
 
 
» » Terus Berupaya dan Indahnya Menjadi Syi'ah yang Hakiki
Advertise

Terus Berupaya dan Indahnya Menjadi Syi'ah yang Hakiki


 

Bismillah


Angga Corleone

Salam ustaz apakah maksud dari hadist dan ayat ini hanya untuk syiiah sejati dan taqwa dan tidak berlaku untuk ab awam yang belum atau kurang bertaqwa


1) Api neraka tidak membakar syi’ah/syi’ah tidak akan masuk neraka,"Umar bin Yazid berkata, "Saya bertanya kepada Imam Ja’far al-Shadiq as.: ‘Saya mendengar Anda mengatakan bahwa semua Syi’ah Anda akan memasuki surga betapapun mereka berbuat dosa?’ Imam menjawab, ‘Demi Allah, aku benar-benar mengatakannya. Mereka semua akan masuk surga.’ Kemudian Saya bertanya lagi, ‘Jiwa Saya Sebagai tebusan Anda, sekalipun dosa-dosa mereka begitu besar?’ Imam menjawab, ‘Kalian semua akan memasuki surga dengan syafaat Nabi saw atau para khalifahnya (imam) pada hari kiamat.” (Hal. 11).


2) Doktrin agar menjadi syiah sejati,Syi’ah Sejati, Mereka yang Mengikuti (Menaati) Para Imam:Benar, kita dapat memberikan gelar syi’ah kepada individu-individu yang mengikuti imam dalam semua aspek karakter dan perkataan. Karena itu, Bab al-Hawaij Imam Musa al-Kazhim berkata, "Syi’ah kami hanyalah orang-orang yang mengikuti kami (dalam semua aspek), melangkah dalam jejak kaki kami, dan meniru amal-amal kami.” (Bihar al-Anwar). Yaitu orang-orang yang disebut dalam al-Qur’an Sebagai Khairul Bariyyah (manusia terbaik).Allah telah mendefinisikan orang-orang seperti itu Sebagai khoirul barriyah dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (al-Bayinah: 7) Nabi saw diriwayatkan telah menerangkan bahwa khoirul bariyyah merujuk kepada Syi’ah (pengikut) Ali: "Wahai Ali, khoirul barriyah artinya engkau dan syi’ah-syi’ah-mu. Pada hari kiamat, mereka akan ridha dengan apa yang Allah limpahkan kepada mereka, dan mereka pun akan diridhai oleh Allah.” (Tafsir al-Thobarsi manaqib khwarazmi, Ibnu Hajar) (hal. 18-19).


3) Yang beriman dengan wilayah/ imamah dijamin selamat,Tak diragukan bahwa orang yang memiliki wilayah (menjadikan pemimpin, mencintai) Ahlulbait berhak mendapatkan keselamatan. Sesungguhnya, dia akan bersama para nabi as dan imam maksum.Imam al-Ridha berkata, "Allah akan menghimpun syi’ah-syi’ah kami pada hari pengadilan dalam suatu kondisi sedemikian rupa sehingga wajah-wajah mereka kemilau dengan cahaya. Argumen-argumennya menjadi nyata dan hujjahnya jelas dihaapan Allah. Adalah wajib bagi Allah untuk menhimpunkan syi’ah-syi’ah kami dengan para nabi, para syahid, dan orang-orang yang benar, pada hari keputusan. Orang-orang ini adalah sebaik-baik pengikut.” (Bihar al-Anwar) syukron


Sinar Agama

Salam dan trims pertanyaannya:

1- Sepertinya Saya sudah pernah membahasnya.

2- hadits-hadits itu untuk syi'ah. Akan tetapi syi'ah itu memiliki gradasi. Ada yang hakiki dan ada yang di bawahnya dan Sebegitu rupa sampai ke yang rendah Sekali, yaitu yang banyak maksiatnya, seperti tidak shalat, tidak puasa...dst.

3- Syafaat itu juga bergradasi. Ada yang mendapatkannya sebelum masuk neraka dan ada yang mendapatkannya Setelah masuk neraka. SEmua itu sesuai dengan kadar dosa yang dimilikinya.

4- Ketika kita menemukan hadits tentang syi'ah ini, maka kalau dalam hal kebaikan, jelas yang hakiki yang akan menjadi mishdaq/ekstensi atau wujud yang dimaksudkan hadits tsb. Karena kita juga banyak memiliki hadits yang menolak kesyi'ahan orang-orang tertentu, seperti yang tidak paling takwa diantara sekian penduduk dalam satu kota.

5- Orang beriman, terutama syi'ah sudah pasti akan masuk surga kalau imannya itu tidak diingkari (murtad atau seperti murtad) sekalipun harus masuk neraka dulu. Jadi, perkataan masuk surga, tidak menyangkal masuknya seseorang ke dalam neraka terlebih dahulu.

Kesimpulan:
Kita semua harus berusaha menjadi syi'ah yang hakiki yang setidaknya mengerti fikih dan tidak melakukan dosa dimana derajat ini bisa dikatakan derajat terndahnya syi'ah hakiki. Karena yang lebih tinggi dari itu, dengan didasari hal-hal tsb (tidak liar dengan meninggalkan fikih dan kemudian sok irfan) masih terlalu banyak lagi tingkatannya.

Sebegitu wajib gigihnya dalam usaha2 tsb, maka sekalipun jatuh sejuta kali, harus bangkit sejuta satu kalinya. Jadi, tidak boleh putus asa untuk meraih yang hakiki tsb.

Sedang adanya dosa-dosa yang barangkali sampai mati ada pada kita dan orang-orang lain, maka kita wajib tetap mengharap ampunan dan syafaatNya, baik Dia langsung atau melalui para nabi as dan para imam as atau orang-orang yang shalih.


Andri Kusmayadi

Afwan ustad, ana mendahului yang punya akun...maksud pernyataan ini apa ustad? "Orang beriman, terutama syi'ah sudah pasti akan masuk surga kalau imannya itu tidak diingkari (murtad atau seperti murtad) sekalipun harus masuk neraka dulu."


Andri Kusmayadi

apakah maksud dari imannya tidak diindkari (murtad atau seperti murtad)?


Angga Corleone

Sebegitu wajib gigihnya dalam usaha2 tsb, maka sekalipun jatuh sejuta kali, harus bangkit sejuta satu kalinya. Jadi, tidak boleh putus asa untuk meraih yang hakiki tsb afwan ustaz apakah maksud dari keterangan tsbt termasuk dalam semua aspek kehidupan dan mungkin ada juga yang mencibir dgn istilah tobat sambal atau mencampur antara kebaikan dan keburukan " terimaksih atas jawaban sblm nya dan afwan atas kebodohan saya untuk pertanyaan berikutnya


Angga Corleone

untuk yang lain yang masih penasaran ~lanjutkan


Sinar Agama

Andri: Misalnya orang syi'ah mengimani Allah. Kalau ia tidak mengingkari imannya ini, maka sekalipun dosanya besar dan harus masuk neraka dulu, pada akhirnya akan masuk surga. tapi kalau diingkarinya, maka sangat mungkin akan masuk neraka selamanya. Bagaimana mengingkari iman kepada Tuhan ini? Contohnya:

Ia beriman bahwa Allah/Tuhan itu ada. Ia juga beriman bahwa Tuhan menurunkan syariatNya dan fikih. Ia juga beriman bahwa yang mengingkari fikih ini maka sama dengan mengingkariNya. Lalu ia mengingkari kewajiban berfikih. Nah, kalau orang ini benar-benar sadar terhadap iman2 di atas, lalu ia melakukan pengingkaran terhdap kewajiban fijih ini, maka di syi'ah, ia sudah dihukumi kafir dan najis. Jangan fikih keseluruhan, shalat saja, karena ia mudah dipahami oleh semua orang, maka kalau diingkari, ia sudah menjadi najis. Yakni dihukumi kafir dan najis. tapi syaratnya, ia dalam keadaan menyadari bahwa Shalat itu kewajiban agama dimana mengingkarinya sama dengan mengingkari agamaNya.

Tempo hari ada yang tidak paham akan hal ini. Yakni sunni yang tidak memahami akidah syi'ah. Dikirinya kita menajiskan sunni, padahal kita membahas orang syi'ah yang pengejek simbol2 sunni. Sunni, karena dari awal tidak mengimani imam maksum dan marja'iyyah, maka tidak ada konsekwensi apa-apa. tapi syi'ah yang meyakini imam maksum as dan meyakini harus taklid, kemudian ia melanggarnya, seperti marja' mengharamkan mengejek tapi ia mengejek simbol2 sunni. Kalau pengejek ini, sadar bahwa mengingkari hukum marja' itu sama dengan mengingkari hukum maksumin as, dan berarti sama dengan mengingkari Nabi saww dan agama Allah, maka ia bukan hanya dosa ,akan tetapi akan menjadi najis. Karena mengikuti kemarja'-an itu adalah suatu yang darurat dalam agama, yakni mudah dipahami. Memahami kemestian taklid itu, tidak beda dengan memahami hal yang mudah lainnya, seperti kewajiban shalat. 

Memang, kalau pengejek ini mujtahid, atau taklid pada mujtahid yang membolehkan mengejek, dan ia tidak percaya wilayatul fakih yang mutlak itu, maka bisa saja hanya dosa akan tetapi tidak sampai kepada tingkat najis. tapi apapun akibat yang diakibatkan oleh tingkahnya itu seperti perpecahan umat Islam dan langgengnya israel atau berjatuhannya korban akibat permusuhan dan pengejekannya itu, bisa tercatat dalam amal2nya Sebagai dosa yang tidak kepalang tanggung besarnya.

Semua itu adalah keimanan pada Allah yang diingkarinya. Masalah tsb, bisa diteruskan kepaka keimanan kepada Nabi saww dan para imam maksum as


Sinar Agama

Angga: sudah tentu semua kehidupan, terutama kehidupan beragama yang juga mencakup segala aspek kehidupan. Kan sudah sering dikatakan bahwa fikih itu mencakup semua hal, pribadi, keluarga, tetangga, sosial, politik, budaya, ekonomi dan apa saja. Jadi dosa dan pahala itu masuk ke dalam masalah apapun dalam kehidupan manusia.


Andri Kusmayadi

berarti yang membedakan kekal atau tidaknya di dalam neraka itu bukan syiah atau tidaknya, tetapi pengingkaran keimanan itu atau tidak, atau kafir atau tidaknya, atau najis atau tidaknya? begitu ya ustad?


Angga Corleone

berarti org yang sudah paham atau mengerti fikih sholat tapi ybs masih suka atau jarang melaksanakan sholat dan ibadah wajib lainnya di hukumi najis dan kafir dan apakah kekafiran tsbt sudah dihukumi murtad keluar dari agama islam atau hanya kafir lalai dalam sholat dan ibadah wajib lainnya {apakah semua syiiah yang masih suka maksiat }disebut kafir ustaz


Angga Corleone

afwan ya ustaz terus terang saja semenjak saya ikut syiah dalam beberapa thn ini dan kenal ustaz saya jadi lebih waswas dalam beribadah dan takut tidak diterimanya ibadah tsbt untuk orang awam seperti saya apa lg dalam hal fikih nya yang sangat ketat dan penuh dgn kehatihatian yang sangat tinggi tidak seperti waktu masih di suni yang cenderung terlihat lebih” simple dan toleran” {apa lg saya juga baru tau dari tulisan ustaz kalo di syiah tidak taqwa dalam hal ibadah yang wajib saja sudah di hukumi kafir dan najis }tks


Sinar Agama

Andri, banyak faktor dan bukan hanya terbatas pada hal-hal tsb. Kafir juga bisa masuk surga bahkan tanpa harus masuk neraka seperti yang sudah dijelaskan berkali-kali. Yaitu yang tidak didatangi ajaran Islam, tapi ia baik di dalam agama yang di anutnya dan tidak melanggar hal-hal yang diketahui dengan akalnya suatu kejelekan dan tidak aniaya kepada orang lain.


Sinar Agama

Angga:
1- Antum salah memahmi tentang tulisan Saya. Mengingkari, beda dengan tidak mengamalkan. yang membuat orang itu najis dan dihukumi kafir, adalah yang mengingkari keimanannya itu, baik langsung berhubungan dengan keimanannya atau hal-hal yang lain berhubungan dengan iman tapi berhubungan dengan fikih seperti yang sudah dijelaskan itu. Ulangannya:

a- Pengingkar terhadap keimanan seperti contoh pertama. Yaitu orang yang tahu bahwa fikih itu dari Tuhan, dan mengingkarinya sama dengan mengingkari Tuhan, tapi ia tetap mengingkarinya. Ia tahu kalau fikih itu wajib ditaati, tapi ia mengingkari kewajiban tsb. Ini berhubungan dengan keseluruhan fikih.

b- Pengingkar terhadap keimanan yang melalui fikih bisa dibayangkan dalam tiga keadaan dimana yang salah satunya belum masuk dalam kekafiran dan belum najis:

b-1- Orang yang mengingkari hal-hal mudah (dharuri) dipahami seperti wajib shalat. Mengingkari kewajiban shalat, bisa membuat seseorang menjadi kafir dan najis. Yaitu manakala ia tahu bahwa pengingkarannya itu sama dengan mengingkari agamaNya. Ini yang Saya maksudkan dengan kafir dan najis.

b-2- Orang yang tidak mengingkari hal-hal mudah itu, tapi tidak melakukannya. seperti orang yang tahu bahwa shalat itu wajib dan ia tidak mengingkarinya akan tetapi ia tidak melakukannya. Orang seperti ini, jelas belum najis sekalipun melakukan dosa besar.

b-3- Melanggar hukum Wilayatulfaqih. Ini memiliki perbedaan dari semua hukum-hukum fikih. Fikih memang sama dengan hukum, tapi dalam istilah khusus, hukum memiliki arti yang lebih spesifik. Yaitu suatu fikih yang dikeluarkan oleh wilyatulfaqih Sebagai marja' a'lam (lbh pandai) dari yang lain, yang mana fatwa itu dikeluarkan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Inilah yang selalu diitilahkan dengan fikih sosial-politik. Fatwa ini bisa berkesinambungan dan bisa tidak. Semuanya tergantung kepada keadaan yang dihadapi Islam dan muslimin. 

Nah, dalam melanggar fikih wliyatulfaqih inilah yang pelanggarnya bisa menjadi najis. Artinya, beda dengan fikih2 yang lain. Karena kalau fikih lainnya, pelanggarnya tidak najis dan hanya pengingkarnya yang najis. Sedang di fikih yang diistilahkan dengan hukum secara khusus ini, pelanggarnya sendiri bisa menjadi najis. Akan tetapi, seperti yang sudah pernah dijelakan bahwa yang mengatakan najis itu adalah sebagian aqwal/pendapat. Dan Saya sendiri memastikan kenajisannya kalau pelakunya itu beriman kepada hal tsb, yaitu beriman kepada kemestian wilayatulfaqih dan juga sadar bahwa melanggarnya sama dengan menentang para maksumin dan Allah.

Hal yang membedakan fikih-hukum ini dari fikih2 lainnya, adalah karena ia langsung berhungan dengan Islam dan muslimin yang, pelanggaran terhadapnya, bisa membahayakan agama dan muslimin itu sendiri. 

Pengejekan simbol2 sunni, sekalipun tadinya bisa hanya berupa fikih biasa tentang keharamannya, yaitu ketika muslimin dalam keadaan damai, tidak dijajah kafirin, tidak diadu domba dan belum jatuh korban sesama muslimin, tidak dibunuhi kafirin dan wahabi hingga jatuh korban jutaan muslimin.....dst. Tapi kini, ketika semuanya sudah terbalik, maka keharamannya menjadi urusan agama dan muslimin secara umum. Keharaman seperti ini, dimana hanya bisa dikeluarkan wilyatulfaqih, tidak hanya mencakupi yang menaqlidinya, akan tetapi mencakupi semua muslim yang taqlid kepada marja' lain dan bahkan marja'-nya itu sendiri wajib menaatinya. Inilah kekhususan fikih-hukum tsb.

Ketika ayatullah Syirazi ra yang mengaharamkan rokok, maka semua muslimin yang tidak taklid kepada beliau-pun dan bahkan ulama dan para marja', wajib taat dan telah menaatinya. Beliau ra, ketika melihat jutaan muslimin Iran dirugikan oleh pengusaha rokok Ingris yang membeli tembakau Iran dengan harga murah, hingga muslimin tetap saja miskin, maka beliau ra telah mengeluarkan fikih-hukum ini dengan fatwanya yang terkenal (+/-): "Mulai hari ini rokok adalah haram dan siapa yang tetap merokok, maka ia adalah musuh imam Mahdi as."

Bukan hanya umat Islam biasa, para ulama dan marja' yang masih merokokpun, tidak ada yang berani merokok. Akhirnya perusahan rokok Ingris menjadi bangkrut dan Ingrispun merubah perjanjian bisnisnya dalam membeli tembakau yang disesuaikan dengan harga baru yang adil.


Sinar Agama

Contoh lain adalah, ketika 'Allaamah Thaba Thabai ra mengajar filsafat dan dilarang oleh marja' a'lam kala itu, yaitu ayatullh Burujurdi ra, beliau ra mengatakan kepada utusan ayatullah Burujurdi ra yang menyampaikan larangannya itu:

"Kalau larangan ini Sebagai hukum dari beliau, maka Saya akan menaatinya dan akan berhenti mengajar filsafat. Akan tetapi, kalau hanya padangannya (fatwanya), maka Saya akan terus mengajarkan filsafat karena Saya memiliki pandangan/pendapat/fatwa sendiri.

Btw, fikih-hukum ini memang memiliki kekhususan dari fikih-umum atau fikih-biasa. Pelanggarnya, jelas berdosa besar. Akan tetapi, apakah sampai ke derajat najis atau tidak, merupakan hal yang belum bisa dipastikan. tapi kalau dengan kesadaran yang sudah diterangkan di atas itu, seperti ia tahu bahwa wilayatulfaqih itu adalah darurat, ia juga tahu melanggarnya SAMA dengan MENENTANG maksumin as dan Allah. tapi kalau ia hanya sadar bahwa pelanggarnya itu HANYA MELANGGAR maksumin as dan Allah, maka tidak sampai ke najis. Kecuali kalau dari awal sudah berpendapat bahwa pelanggar fikih-hukum ini, adalah najis seperti yang sudah dijelaskan di atas itu (menurut sebagian aqwal/pendapat).


Andri Kusmayadi

iya ustad, biar ana tidak salah paham, jadi untuk poin ini, meskipun dia orang syiah, bisa saja kekal di dalam neraka kan ya?, Yaitu "Orang syiah yang mengingkari hal-hal mudah (dharuri) dipahami seperti wajib shalat. Mengingkari kewajiban shalat, bisa membuat seseorang menjadi kafir dan najis. Yaitu manakala ia tahu bahwa pengingkarannya itu sama dengan mengingkari agamaNya. Ini yang Saya maksudkan dengan kafir dan najis." dan yang ini "Orang syiah yang melanggar hukum Wilayatulfaqih. Ini memiliki perbedaan dari semua hukum-hukum fikih. Fikih memang sama dengan hukum, tapi dalam istilah khusus, hukum memiliki arti yang lebih spesifik. Yaitu suatu fikih yang dikeluarkan oleh wilyatulfaqih Sebagai marja' a'lam (lbh pandai) dari yang lain, yang mana fatwa itu dikeluarkan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Inilah yang selalu diitilahkan dengan fikih sosial-politik. Fatwa ini bisa berkesinambungan dan bisa tidak. Semuanya tergantung kepada keadaan yang dihadapi Islam dan muslimin." syukron ust. Sinar Agama


Sinar Agama

Andri: Benar seperti itu, seperti juga membunuh banyak orang kayak' raja iran yang digulingkan Imam Khumaini ra. tapi apapun akhir dari mereka-mereka itu, kita serahkan kepada Tuhan. Jadi, janji ancaman, tidak wajib dipenuhi. Beda dengan janji rahmat dan pahala, maka memang wajib dipenuhi. Jadi, kalau kita mengancam membunuh orang yang telah membunuh keluarga kita misalnya, dan kemudian kita tidak melakukannya, maka hal itu tidak dikatakan jelek. Btw, kita hanya mengikuti lahiriah agama yang kita pahami ini, dan untuk seterusnya, yang di akhirat kelak, kita seerahkan sepenuhnya kepada Allah. tapi kita tidak boleh membuka peluang pada kita untuk maksiat, karena lahiriahnya itu, adalah ajaran yang wajib diimani dan diikuti.


Andri Kusmayadi

syukron ustad atas penjelasannya yang sangat membantu...


 
Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.

Comments:

Add Comments
Information
Would you like to leave your comment? Please Login to your account to leave comments. Don't have an account? You can create a free account now.